Coiling Perdana, RSUD Kudungga Tingkatkan Layanan dan Kurangi Rujukan ke Luar Daerah

IMG 20261025 WA0038

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menghadiri kegiatan coiling perdana di RSUD Kudungga Sangatta, Minggu (25/10/2026). Foto Dewi/Pro Kutim.

SANGATTA - Dua perempuan berusia 51 dan 61 tahun menjadi pasien dalam pelaksanaan tindakan coiling perdana di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kudungga Sangatta, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Minggu (25/10/2026) pagi. Keduanya mengalami aneurisma pembuluh darah otak, yakni pelebaran abnormal pada pembuluh darah yang berisiko pecah dan menyebabkan perdarahan otak.

Tindakan tersebut menjadi langkah pengembangan pelayanan yang manfaatnya diharapkan menjangkau masyarakat lebih luas. Melalui penguatan kemampuan tenaga medis dan dukungan fasilitas rumah sakit, warga Kutim diharapkan memiliki lebih banyak kesempatan memperoleh penanganan di daerah sendiri, sehingga kebutuhan rujukan ke Balikpapan atau Samarinda dapat berkurang sesuai kesiapan layanan.

Pelaksanaan perdana itu berlangsung melalui proctorship, yaitu pendampingan dan pengawasan langsung oleh dokter ahli kepada tim medis yang mengembangkan suatu tindakan. Bagi RSUD Kudungga, pendampingan ini menjadi titian untuk meningkatkan kecakapan tenaga kesehatan sekaligus membangun kemandirian pelayanan stroke dan bedah saraf secara bertahap.

1001329637
1001329637

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman hadir dalam kegiatan tersebut bersama perwakilan Kementerian Kesehatan RI, jajaran pemerintah kabupaten, tim medis, serta rumah sakit pengampu layanan stroke. Perwakilan RSUP Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta dan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON) turut mengikuti rangkaian kegiatan, termasuk melalui pertemuan daring.

Direktur RSUD Kudungga dr Muhammad Yusuf, menjelaskan bahwa penanganan kedua pasien didampingi tim dokter pengampu. Pelaksanaannya merupakan bagian dari peningkatan kompetensi tenaga medis dan pengembangan layanan intervensi saraf, dengan dukungan anggaran SIREN Kementerian Kesehatan RI melalui jejaring pengampuan layanan stroke.

“Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat kemampuan RSUD Kudungga dalam menangani kasus neurologis yang membutuhkan tindakan khusus dan teknologi medis berstandar tinggi,” sebutnya.

Coiling merupakan prosedur minimal invasif, yakni tindakan dengan akses masuk yang terbatas ke dalam tubuh. Prosedur ini digunakan untuk menangani aneurisma tanpa pembedahan terbuka pada tengkorak.

1001329635
1001329635

“Tindakan dilakukan dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah menuju lokasi aneurisma, kemudian menempatkan kumparan khusus untuk membantu menutupnya. Prosedur ini tidak memerlukan pembedahan terbuka pada tengkorak, tetapi tetap membutuhkan penilaian klinis dan pengawasan ketat oleh tenaga medis yang kompeten,” tambahnya.

Pengembangan tindakan tersebut ditunjang sejumlah fasilitas di RSUD Kudungga. Di antaranya neuro cath lab atau laboratorium kateterisasi untuk pemeriksaan dan intervensi pembuluh darah saraf, MRI berkekuatan 1,5 tesla, CT scan 128 slice atau irisan pencitraan, mikroskop operasi, serta intraoperative monitoring system, yakni sistem pemantauan selama operasi. Tersedia pula ruang operasi dan unit perawatan intensif atau ICU untuk menunjang penanganan sesuai kebutuhan medis.

Dengan fasilitas dan peningkatan kompetensi tersebut, rumah sakit memperluas cakupan pelayanan bedah saraf, mulai dari cedera kepala, tumor otak, perdarahan otak, stroke akut, hingga aneurisma pembuluh darah. Pelayanan juga mencakup saraf terjepit atau herniated nucleus pulposus (HNP).

Laboratorium kateterisasi saraf mendukung pemeriksaan angiografi pembuluh darah otak atau DSA serta embolisasi, yaitu tindakan menutup pembuluh darah tertentu sesuai kebutuhan medis. RSUD Kudungga juga mengembangkan kemampuan bedah mikro terbuka sesuai indikasi.

Namun, kesiapan pelayanan tidak berhenti pada ketersediaan perangkat. Yusuf menekankan pentingnya sumber daya manusia, ketepatan diagnosis, kepatuhan terhadap prosedur, serta penerapan standar keselamatan pasien.

“Seluruh aspek tersebut menjadi fondasi penting agar pelayanan yang dikembangkan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelasnya.

1001329636
1001329636

Dari pihak rumah sakit pengampu, dr David Pangeran dari RSCM menekankan peran kolaborasi antarrumah sakit dalam memperkuat penanganan stroke. Melalui jejaring pengampuan, rumah sakit daerah memperoleh pendampingan klinis, peningkatan keterampilan tenaga kesehatan, dan penguatan tata kelola pelayanan.

Pengembangan kemampuan itu akan dilakukan bertahap. Tindakan coiling yang mulai dilaksanakan menjadi bagian dari lingkup pelayanan yang hendak diperkuat, sementara tindakan lain masih masuk dalam rencana pengembangan.

“Pengembangan layanan tidak hanya berfokus pada tindakan coiling untuk menangani aneurisma dan kondisi tertentu yang berkaitan dengan stroke hemoragik, tetapi juga mencakup rencana pengembangan tindakan trombektomi bagi pasien stroke iskemik sesuai indikasi. Program pendampingan turut diarahkan pada kegiatan visitasi, lokakarya, dan pelatihan keperawatan stroke,” urainya.

Stroke hemoragik merupakan stroke akibat perdarahan, sedangkan stroke iskemik terjadi akibat sumbatan. Adapun trombektomi merupakan tindakan untuk mengambil bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah.

David mengingatkan bahwa penanganan stroke membutuhkan kecepatan dan ketepatan. Keterlambatan dapat meningkatkan risiko kecacatan maupun kematian.

“Karena itu, peningkatan kemampuan rumah sakit daerah menjadi bagian penting dalam memperluas akses terhadap pelayanan yang sesuai kebutuhan pasien,” ujarnya.

Direktur Pelayanan Klinis Kementerian Kesehatan RI dr Obrin Parulian, menyampaikan bahwa penguatan jejaring pengampuan nasional diarahkan untuk meningkatkan kecepatan penanganan sekaligus menekan risiko kematian akibat stroke. Dalam jejaring tersebut, Rumah Sakit PON bertindak sebagai koordinator nasional, sedangkan RSCM menjalankan pengampuan regional.

“Melalui program proctoring intervensi endovaskular, RSUD Kudungga Kutai Timur didampingi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) guna meningkatkan kemampuan tenaga medis dalam memberikan layanan stroke secara mandiri,” bebernya.

Pendampingan intervensi endovaskular, yakni tindakan melalui pembuluh darah, menjadi bagian dari pengembangan penanganan stroke akibat sumbatan maupun perdarahan. Lingkup pengembangannya meliputi trombolisis atau pemberian obat untuk melarutkan bekuan darah, trombektomi, dan coiling.

“Penguatan kapasitas ini diharapkan mengurangi kebutuhan pasien dirujuk ke Balikpapan atau Samarinda, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan akses masyarakat terhadap layanan stroke yang bermutu semakin luas. Ke depan, RSUD Kudungga didorong berkembang menjadi rumah sakit dengan layanan stroke komprehensif dan mandiri dalam lima tahun mendatang,” tambahnya.

Selain kompetensi medis, integrasi sistem rujukan berbasis kompetensi bersama BPJS Kesehatan turut menjadi perhatian. Penguatan sistem tersebut diharapkan membantu masyarakat mengakses pelayanan, termasuk tindakan di laboratorium kateterisasi, secara lebih efektif dan terjangkau.

1001329664
1001329664

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menegaskan bahwa peningkatan mutu rumah sakit membutuhkan sokongan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan. Pengembangan pelayanan perlu disertai pengawasan berkelanjutan, pemenuhan standar keselamatan pasien, serta peningkatan respons tenaga medis terhadap kebutuhan warga.

Jangkauan pelayanan juga menjadi perhatiannya, terutama bagi penduduk yang menghadapi kendala geografis dan keterbatasan akses terhadap dokter spesialis.

“Pemerintah daerah juga mendorong pemerataan pelayanan melalui keberadaan puskesmas di seluruh kecamatan dan inovasi dokter spesialis keliling. Langkah ini diharapkan membantu menjangkau masyarakat di wilayah yang menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan akses terhadap dokter spesialis,” tegasnya.

Menurut Ardiansyah, peningkatan kecakapan tenaga kesehatan harus berjalan beriringan dengan pembenahan sistem pelayanan.

“Kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan, rumah sakit pengampu, BPJS Kesehatan, dan pemerintah daerah menjadi kunci untuk memastikan peningkatan kompetensi berjalan seiring dengan penguatan sistem pelayanan” pintanya.

Coiling perdana pada dua pasien itu menjadi pijakan bagi pengembangan layanan berikutnya. Bagi warga Kutim, arah yang dituju ialah memperoleh penanganan lebih dekat dari tempat tinggal, dengan keselamatan pasien dan kemampuan klinis rumah sakit tetap menjadi pangkal pertimbangan. Pengurangan rujukan ke luar daerah diharapkan mengikuti kesiapan tenaga medis, fasilitas, dan sistem pelayanan yang terus diperkuat. (Dw/Fan/Fj).

310
Dw
Memuat tombol bagikan...
Memuat komentar...