Meski Udara Kutim Membaik, Kewaspadaan ISPA Belum Boleh Surut

c077b2dd 94bd 40c9 8a5a 2bdc0626bcaf

Teks foto : Infografik Dinas Kesehatan Kutai Timur memperlihatkan penurunan indeks kualitas udara pada 25-27 Oktober 2026 serta perkembangan kasus ISPA periode 28 September-26 Oktober 2026. Sumber Dinas Kesehatan Kutai Timur.

SANGATTA - Udara Kutai Timur menunjukkan perbaikan dalam tiga hari pemantauan. Indeks yang sebelumnya berada dalam kategori tidak sehat berangsur turun menjadi sedang. Namun, perkembangan itu belum diikuti penurunan kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA yang ajek. Perlindungan terhadap warga, terutama kelompok rentan, masih menjadi perhatian.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur memperlihatkan indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) turun dari 160 pada 25 Oktober 2026 menjadi 73 pada 26 Oktober, kemudian mencapai 55 pada 27 Oktober. Penurunan sebesar 65,6 persen tersebut menandai peralihan status udara dari tidak sehat menjadi sedang.

Konsentrasi PM2,5 juga menyusut dalam rentang yang sama. Pada 25 Oktober, kadarnya tercatat 72,3 mikrogram per meter kubik. Sehari kemudian, angka itu turun menjadi 22,5 mikrogram per meter kubik, lalu mencapai 14,2 mikrogram per meter kubik pada 27 Oktober. Secara keseluruhan, penurunannya mencapai 80,4 persen.

Perkembangan tersebut terangkum dalam publikasi pemantauan kualitas udara dan tren ISPA yang diterbitkan Dinas Kesehatan Kutai Timur, instansi yang dipimpin dr Yuwana Sri Kurniawati. Di dalamnya, perbaikan kondisi udara tetap disertai anjuran kewaspadaan, khususnya bagi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta penderita penyakit paru dan jantung.

“Tetap gunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, terutama kelompok rentan (anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit paru/jantung),” demikian rekomendasi tertulis Kepala Dinas Kesehatan dalam infografik tersebut.

Anjuran itu beriringan dengan pencatatan ISPA yang masih berfluktuasi. Sepanjang periode 28 September hingga 26 Oktober 2026, jumlah kasus harian memperlihatkan pasang surut, dengan kecenderungan meningkat pada minggu ketiga hingga keempat Oktober.

Pada awal periode pencatatan, 28 September, ditemukan 95 kasus. Angkanya kemudian bergerak naik turun. Memasuki 19 Oktober, tercatat 43 kasus, lalu bertambah menjadi 71 kasus pada 20 Oktober. Jumlahnya turun menjadi 57 kasus pada 21 Oktober, sebelum kembali meningkat menjadi 86 kasus sehari berikutnya.

Puncak kasus terjadi pada 23 Oktober, yakni 126 kasus. Sehari kemudian, jumlahnya masih tinggi dengan 124 kasus. Penurunan menjadi 39 kasus pada 25 Oktober belum bertahan karena pada 26 Oktober kembali tercatat 71 kasus.

Dalam grafik tersebut, tanggal 11 dan 18 Oktober diberi penanda tidak ada data. Kedua tanggal itu tidak dapat dimaknai sebagai hari tanpa kasus.

Analisis Dinas Kesehatan menyebut peningkatan ISPA pada pertengahan hingga akhir Oktober dapat dipengaruhi paparan polusi udara, kondisi cuaca atau kemarau, mobilitas masyarakat, serta faktor risiko lainnya. Sementara itu, penurunan pada 25 Oktober kemungkinan dipengaruhi perbaikan kualitas udara dan/atau variasi pelayanan.

Meski demikian, data tersebut belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung antara perubahan AQI dan jumlah kasus ISPA. Kecenderungan peningkatan kasus pada periode dengan kualitas udara lebih buruk masih memerlukan pengamatan lanjutan.

Dengan demikian, membaiknya indeks udara perlu dibaca bersama perkembangan kasus penyakit. Penurunan dalam satu hari belum cukup untuk memastikan kecenderungan yang menetap, sebagaimana kenaikan harian tidak serta-merta menjelaskan penyebabnya.

Bagi masyarakat, pesan yang disampaikan tetap bertumpu pada pengurangan paparan ketika udara memburuk. Dinas Kesehatan menganjurkan pembatasan kegiatan di luar ruangan pada kondisi tersebut, disertai pemantauan kualitas udara dan kasus ISPA secara rutin.

Kesiapan pelayanan juga masuk dalam rekomendasi. Ketersediaan layanan kesehatan, obat, dan media edukasi kepada masyarakat perlu dipastikan agar upaya pencegahan berjalan beriringan dengan pelayanan bagi warga.

Data kualitas udara dalam publikasi itu bersumber dari Open-Meteo. Adapun pencatatan ISPA menggunakan SKDR dan DHIS2–Situs ISPA Karhutla. Melalui pemantauan berkelanjutan, perubahan kondisi udara dan perkembangan penyakit diharapkan dapat menjadi dasar kewaspadaan dini serta penguatan pencegahan pada kelompok rentan. (Fj)

6150
Fj
Memuat tombol bagikan...
Memuat komentar...