SANGATTA - Penguatan layanan stroke dan gangguan pembuluh darah otak di RSUD Kudungga harus berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan tenaga medis. Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman menegaskan pentingnya kesinambungan kerja sama dengan rumah sakit pengampu nasional agar pengembangan pelayanan tersebut dapat berlanjut dan memperluas akses penanganan bagi masyarakat.
Penegasan itu disampaikan Ardiansyah seusai menyaksikan pemantauan langsung pelaksanaan proctorship (pendampingan tindakan medis oleh tenaga ahli) untuk prosedur coiling neuroendovaskular di Ruang Konferensi Lantai 2 RSUD Kudungga, Minggu (25/10/2026). Prosedur tersebut merupakan penanganan aneurisma pembuluh darah otak melalui kateter dengan menggunakan gulungan kawat khusus.

Bagi masyarakat Kutim, pengembangan kemampuan rumah sakit daerah ini diharapkan membuka kesempatan memperoleh penanganan gangguan pembuluh darah otak lebih dekat dengan tempat tinggal. Kebutuhan rujukan ke luar daerah pun diharapkan dapat berkurang, dengan tetap mempertimbangkan kondisi pasien, indikasi medis, serta kesiapan tenaga dan fasilitas.
Ardiansyah mengapresiasi keterlibatan para ahli dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof. Dr. Mahar Mardjono. Pendampingan kedua rumah sakit tersebut menjadi bagian dari ikhtiar meningkatkan kemampuan pelayanan RSUD Kudungga secara bertahap.
“Alhamdulillah, pelaksanaannya hari ini sudah cukup baik. Mudah-mudahan setelah ini bisa berlanjut ke tahap berikutnya. Atas nama pemerintah daerah, saya menyampaikan terima kasih kepada para ahli yang hadir untuk perkembangan pelayanan kesehatan di Kutai Timur,” ujar Ardiansyah.

Harapan untuk melangkah ke tahap berikutnya itu bertumpu pada kerja sama antartenaga medis. Bupati menekankan perlunya pendampingan dan pertukaran pengalaman yang berkesinambungan agar peningkatan kompetensi terus berlangsung, sejalan dengan standar medis dan kemampuan fasilitas rumah sakit.
“Kita berterima kasih atas kerja sama semua pihak, baik tenaga medis yang ada di Kudungga maupun tenaga medis lainnya yang saling membantu. Kehadiran para dokter dari berbagai daerah juga memberikan dukungan, ruang diskusi, dan kesempatan untuk saling berbagi pengalaman,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan kali ini, tim pengampu RSCM dan RSPON mendampingi tindakan pada pasien dengan aneurisma pembuluh darah otak. Dua pasien perempuan berusia 51 dan 44 tahun dijadwalkan menjalani prosedur tersebut. Tindakan medis berlangsung di laboratorium kateterisasi atau catheterization laboratory (Cath Lab) RSUD Kudungga.
Sementara prosedur berlangsung di ruang tindakan, pemantauan dilakukan dari ruang konferensi. Direktur Pelayanan Klinis Kementerian Kesehatan RI dr Obrin Parulian serta perwakilan tim pengampu RSCM turut mengikuti kegiatan secara daring.
Ardiansyah hadir didampingi Ketua Kolegium Bedah Saraf Indonesia Prof Asra Al Fauzi, Direktur RSUD Kudungga dr Muhammad Yusuf, serta Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati. Jajaran manajemen dan Dewan Pengawas RSUD Kudungga juga hadir, bersama Ketua TP PKK Kutim Siti Robiah Ardiansyah dan Kepala BPJS Kesehatan Kutim Herman Prayudi.
Pendampingan tenaga ahli ini berkaitan dengan peningkatan keterampilan dokter sekaligus evaluasi kesiapan pelayanan. Di dalamnya tercakup kemampuan tenaga kesehatan, dukungan fasilitas, dan penerapan keselamatan pasien dalam setiap tahapan tindakan.
Aneurisma merupakan pelebaran abnormal pada pembuluh darah yang berisiko pecah. Dalam prosedur coiling, kateter dimasukkan melalui pembuluh darah untuk mengantarkan coil (gulungan kawat khusus) ke dalam kantong aneurisma. Gulungan tersebut membantu menghambat aliran darah ke dalam kantong sehingga mengurangi risiko pecah.
Dengan bantuan peralatan pencitraan medis, tindakan neuroendovaskular dilakukan melalui pembuluh darah. Pendekatan minimal invasif atau dengan intervensi tubuh yang lebih terbatas ini tetap memerlukan penilaian terhadap kondisi masing-masing pasien untuk menentukan kelayakan tindakan.

Direktur RSUD Kudungga dr Muhammad Yusuf menyampaikan bahwa pendampingan tersebut merupakan bagian dari pembangunan kemampuan rumah sakit dalam menangani gangguan pembuluh darah otak secara lebih mandiri.
“Proctorship ini bukan sekadar kegiatan peningkatan kompetensi semata, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan kita untuk membangun kemampuan pelayanan yang semakin mandiri, semakin profesional, aman, dan berorientasi pada keselamatan pasien,” ujarnya.
Pernyataan Yusuf bertaut dengan penegasan Bupati mengenai keberlanjutan pengembangan layanan. Kehadiran rumah sakit pengampu memberi ruang bagi tenaga medis RSUD Kudungga untuk memperdalam kemampuan melalui pendampingan, diskusi, dan pertukaran pengalaman.
Muara penguatan tersebut ialah akses pelayanan bagi masyarakat Kutim. Melalui peningkatan kompetensi dan kesiapan fasilitas secara bertahap, pasien dengan gangguan pembuluh darah otak diharapkan memiliki pilihan penanganan yang lebih luas di daerah sendiri. Keselamatan pasien tetap menjadi dasar dalam menentukan tindakan maupun kebutuhan rujukan. (Mif/Fan/Fj)










