Tekan Rujukan ke Luar Daerah, RSUD Kudungga Perkuat Layanan Stroke

616d38fd 2cf3 4807 9609 fef46e76fde1

Teks foto: Suasana Neuroscience Update Symposium di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, Sabtu (24/10/2026). Foto: Istimewa

SANGATTA - Pasien stroke membutuhkan penanganan cepat dan tepat untuk mencegah kerusakan otak yang lebih parah serta mengurangi risiko kecacatan. Karena itu, penguatan layanan stroke di RSUD Kudungga menjadi langkah penting bagi Kabupaten Kutai Timur (Kutim) untuk memperluas akses pelayanan spesialis sekaligus menekan kebutuhan rujukan pasien ke rumah sakit di luar daerah.

Upaya tersebut didorong melalui peningkatan kompetensi tenaga medis, pengembangan layanan bedah saraf, dan optimalisasi fasilitas kesehatan yang dibahas dalam Neuroscience Update Symposium di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, Sabtu (24/10/2026).

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, yang membuka kegiatan tersebut, menegaskan bahwa peningkatan mutu pelayanan kesehatan harus menjadi prioritas agar masyarakat memperoleh penanganan medis yang semakin baik tanpa harus selalu bergantung pada rumah sakit di luar daerah.

e6308492 05d4 446f 81f6 328a0d9f2a02

Menurut Ardiansyah, penguatan layanan tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas. Ketersediaan dokter spesialis, peningkatan kemampuan tenaga medis, dan optimalisasi sarana rumah sakit harus berjalan beriringan agar pelayanan mampu menjawab kebutuhan pasien.

“Rumah sakit harus terus meningkatkan kualitas pelayanan. Kemampuan tenaga medis perlu diperkuat, kebutuhan dokter spesialis harus diperhatikan, dan fasilitas yang tersedia harus dimanfaatkan secara optimal untuk melayani masyarakat,” kata Ardiansyah.

Ia juga mengingatkan bahwa profesi tenaga kesehatan bukan semata-mata berkaitan dengan keahlian medis, melainkan menyangkut tanggung jawab terhadap keselamatan manusia. Karena itu, dokter, perawat, bidan, dan seluruh tenaga kesehatan diharapkan tetap mengutamakan profesionalisme serta kepedulian dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

bdccff6c 2594 4126 8c74 6fbea9cfd888

Ardiansyah mengapresiasi kehadiran para guru besar, pakar, dan tenaga ahli yang menjadi narasumber dalam simposium tersebut. Menurutnya, forum ilmiah seperti ini memberi kesempatan kepada tenaga kesehatan di Kutim untuk memperbarui pengetahuan, bertukar pengalaman, dan meningkatkan kemampuan dalam menangani kasus medis yang membutuhkan keahlian khusus.

Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati menjelaskan bahwa stroke merupakan ancaman kesehatan serius karena dapat menyebabkan kematian maupun kecacatan jangka panjang. Dampaknya tidak hanya dirasakan pasien, tetapi juga keluarga yang mendampingi proses pemulihan.

Penanganan stroke, lanjutnya, harus dilakukan secara terpadu, mulai dari pencegahan, pengenalan gejala, penanganan darurat, tindakan medis, hingga rehabilitasi. Setiap tahapan membutuhkan kesiapan tenaga kesehatan dan sistem pelayanan yang mampu merespons kondisi pasien dengan cepat.

93e95720 1d02 4d8b 9f24 2b61776559ac

“Pada kasus stroke, waktu sangat menentukan. Semakin cepat pasien mendapat penanganan yang tepat, semakin besar peluang untuk menyelamatkan jaringan otak dan mengurangi risiko kecacatan,” ujar Yuwana.

Prinsip tersebut dikenal sebagai time is brain, yang berarti waktu adalah otak. Keterlambatan penanganan dapat memperbesar kerusakan jaringan otak. Oleh sebab itu, penguatan kemampuan tenaga medis dan kesiapan rumah sakit menjadi bagian penting dalam meningkatkan peluang pemulihan pasien.

Dukungan terhadap pengembangan layanan stroke di Kutim juga disampaikan Deputi Direksi Wilayah VIII BPJS Kesehatan dr. Herman Dinata Mihardja. Ia mengapresiasi komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat pelayanan kesehatan sekaligus memperluas akses pembiayaan melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Dalam kegiatan tersebut, disampaikan bahwa cakupan kepesertaan JKN di Kutim telah mencapai lebih dari 100 persen, sedangkan tingkat keaktifan peserta sekitar 97 persen. Capaian tersebut menjadi modal untuk mendukung akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Namun, perlindungan pembiayaan perlu didukung ketersediaan fasilitas dan tenaga medis yang mampu memberikan penanganan sesuai kebutuhan pasien.

“Harapannya, semakin banyak pasien bisa mendapatkan penanganan yang dibutuhkan di Kutim. Layanan yang semakin baik juga diharapkan dapat membantu pasien dari daerah sekitar,” kata Herman.

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kutim dr Faturrahman mengatakan bahwa simposium tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-27 Kabupaten Kutai Timur, HUT ke-76 IDI, serta menyambut Hari Kesehatan Nasional ke-62. Ia menilai momentum peringatan harus dimanfaatkan untuk menghasilkan kegiatan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Peringatan tidak cukup hanya dengan seremoni. Kami ingin kegiatan ini meningkatkan kemampuan dokter dan memperkuat pelayanan kesehatan agar manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Faturrahman.

Ia menjelaskan bahwa rangkaian Sangatta Neuroscience Update berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu, dengan tiga agenda utama. Kegiatan diawali dengan pemeriksaan Pap smear untuk mendukung deteksi dini, dilanjutkan dengan simposium ilmiah guna memperbarui pengetahuan tenaga kesehatan, serta program proctorship untuk meningkatkan keterampilan klinis melalui pendampingan tenaga ahli.

Ketua panitia dr Heru Kustono mengatakan bahwa simposium berskala nasional tersebut merupakan kontribusi tenaga medis di Kutim untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sekaligus menyambut hari jadi kabupaten. Kegiatan ini menghadirkan pakar dari berbagai pusat pendidikan kedokteran dan diikuti peserta dari sejumlah daerah.

“Lebih dari 150 peserta mengikuti kegiatan ini. Mereka terdiri atas dokter umum, dokter spesialis, dan tenaga kesehatan, termasuk peserta dari Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, serta Bulungan,” kata Heru.

Simposium tersebut menghadirkan Budi Gunadi Sadikin sebagai pembicara utama (keynote speaker), bersama sejumlah pakar dan praktisi, yakni Prof Dr Asra Al Fauzi, dr Heru Kustono, dr Heryadi Bawono Putro, dr Anthony Gunawan, dr Abrar Arham, dr. Krisna Tsaniadi Prihastomo, Prof dr Muhammad Thohar Arifin, serta dr Muhammad Kusdiansah. Para narasumber membahas pengembangan layanan neurosains dan penanganan penyakit serebrovaskular sebagai bagian dari peningkatan kapasitas tenaga kesehatan.

Penguatan layanan stroke di RSUD Kudungga diharapkan menjadi langkah nyata untuk memperluas akses pelayanan spesialis bagi masyarakat Kutim. Namun, upaya menekan rujukan ke luar daerah tetap harus ditopang kesiapan tenaga ahli, fasilitas, kecepatan penanganan, dan sistem rujukan yang sesuai dengan kondisi pasien. Dengan demikian, peningkatan kemampuan rumah sakit dapat berjalan seiring dengan keselamatan pasien dan mutu pelayanan kesehatan. (Yus/Fj)

10220
Yus
Memuat tombol bagikan...
Memuat komentar...