Zahra, siswa SMA Negeri 1 Sangatta Utara, meraih Juara 3 dalam ajang Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan LLAJ Kalimantan Timur 2026. Ia membawa dua gagasan berbasis kecerdasan buatan, SAFEBRO dan SIGMA AI. (Istimewa)
SAMARINDA – Jalan raya bukan hanya ruang bagi kendaraan untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Di sana ada etika, kepatuhan, kewaspadaan, dan tanggung jawab yang menentukan apakah seseorang tiba dengan selamat atau justru menjadi bagian dari catatan kecelakaan lalu lintas.
Bagi Zahra, siswa SMA Negeri 1 Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), keselamatan berlalu lintas tidak cukup dibangun dengan menghafalkan rambu atau memahami aturan. Keselamatan, menurut dia, mesti tumbuh dari kesadaran dan perilaku, sekaligus diperkuat dengan teknologi yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Gagasan itu mengantarkan Zahra meraih Juara 3 dalam Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) 2026. Ajang tersebut berlangsung di Hotel Five Samarinda dan diikuti 27 peserta dari tujuh kabupaten/kota di Kaltim. Zahra berhasil menembus tiga besar setelah membawa karya tulis ilmiah berjudul “SAFEBRO dan SIGMA AI: Inovasi Teknologi dan Etika Transportasi Berbasis Artificial Intelligence untuk Mewujudkan Keselamatan Jalan di Era Digital.”
Atas pencapaian itu, Zahra memperoleh piagam penghargaan dan uang pembinaan. Karya tersebut mulai dikerjakan sejak Juni 2026. Isinya menawarkan dua gagasan yang dirancang untuk saling mengisi, yakni SAFEBRO (Smart Awareness for Ethical Behaviour on Roads) dan SIGMA AI (Smart Integrated Guardian for Motorcycle Access).

Dua nama itu lahir dari dua pendekatan berbeda. SAFEBRO diarahkan untuk membangun kesadaran dan etika pengguna jalan, sedangkan SIGMA AI dirancang sebagai sarana pencegahan agar perilaku berkendara yang berisiko dapat ditekan sejak awal. SAFEBRO merupakan platform edukasi, gamifikasi (penerapan unsur permainan dalam kegiatan nonpermainan), dan pembentukan etika transportasi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Melalui platform itu, pelajar dan pengguna jalan dapat memperoleh edukasi mengenai rambu lalu lintas, penggunaan helm, serta etika berkendara. Konsep gamification diterapkan melalui fitur Safe Challenge, yang dirancang agar pembelajaran mengenai keselamatan jalan terasa lebih menarik dan dekat dengan keseharian generasi muda. Tidak berhenti pada edukasi, SAFEBRO juga mempunyai fitur Safe Report. Fitur tersebut memungkinkan pengguna menyampaikan laporan mengenai kondisi jalan di lingkungan sekitar.
Dengan pendekatan itu, pelajar tidak ditempatkan hanya sebagai penerima pesan keselamatan. Mereka dapat menjadi bagian dari mata rantai informasi, mengamati persoalan di sekitarnya, kemudian menyampaikannya melalui sarana yang dirancang berbasis teknologi. Adapun SIGMA AI bergerak pada sisi yang berbeda. Sistem ini dirancang sebagai kendali akses kendaraan dengan memanfaatkan AI untuk mendeteksi penggunaan helm berstandar SNI sebelum kendaraan dioperasikan. Zahra mengatakan kedua inovasi itu memang dirancang untuk menjawab persoalan keselamatan dari dua sisi: membangun kesadaran sekaligus melakukan pencegahan.
“SAFEBRO itu lebih kepada membangun kesadaran dan etika, sedangkan SIGMA AI memperkuat pencegahan dan kepatuhan. Harapan saya, keduanya bisa dikembangkan bersama untuk mendukung lalu lintas yang lebih aman dan tertib, terutama bagi pelajar,” ujar Zahra.

Ia tidak ingin gagasan tersebut berhenti sebagai karya tulis yang selesai setelah perlombaan. Zahra berharap ada ruang untuk menguji, memvalidasi, dan mengembangkan gagasannya agar dapat diketahui sejauh mana inovasi tersebut bisa diterapkan. Menurut dia, Dinas Perhubungan dapat menjadi mitra dalam proses validasi, pembinaan, uji coba, hingga pengembangan inovasi tersebut.
“Saya berharap ini tidak hanya berhenti sebagai aplikasi atau karya tulis. Saya ingin SAFEBRO dan SIGMA AI bisa diuji dan dikembangkan bersama Dinas Perhubungan, sehingga kalau memang sudah layak, nantinya bisa diterapkan secara bertahap,” katanya.
Sekretaris Dinas Perhubungan Kutim, Masrianto Suriansyah, mewakili atasan dan instansinya mengapresiasi keberhasilan Zahra. Bagi dia, capaian tersebut menunjukkan bahwa pelajar Kutim mampu membawa gagasan yang tidak hanya berkaitan dengan kompetisi, tetapi juga menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Alhamdulillah, dari 27 peserta se-Kalimantan Timur, anak kita dari Kutai Timur bisa masuk tiga besar. Ini tentu membanggakan, karena mereka bukan hanya datang untuk mengikuti kegiatan, tetapi juga membawa gagasan dan inovasi tentang keselamatan transportasi,” ujar Masrianto.
Ia berharap pencapaian Zahra menjadi pemantik bagi pelajar lain untuk berani mengembangkan pemikiran dan mengambil peran dalam membangun budaya keselamatan lalu lintas.
“Kami berharap prestasi ini menjadi motivasi bagi pelajar lainnya. Keselamatan transportasi memang harus kita tanamkan sejak usia pelajar, sehingga mereka tidak hanya memahami aturan, tetapi juga bisa menjadi contoh dan mengajak teman-temannya untuk tertib di jalan,” katanya.
Masrianto menilai gagasan Zahra juga sejalan dengan kebutuhan transportasi pada era digital. Teknologi, menurut dia, dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk mempermudah aktivitas manusia, melainkan pula memperkuat edukasi dan mencegah perilaku yang berpotensi membahayakan pengguna jalan. Di titik inilah capaian Zahra memperoleh makna yang lebih luas. Ia memperlihatkan bahwa pelajar tidak harus menunggu menjadi aparat, petugas perhubungan, atau pengambil kebijakan untuk ikut membangun keselamatan jalan.
Dari ruang kelas, perjalanan menuju sekolah, serta lingkungan tempat tinggal, pelajar dapat mengamati persoalan yang muncul di jalan. Dari pengamatan itu, mereka dapat menyusun gagasan, mengembangkan solusi, dan menawarkan perubahan. Urgensi tersebut semakin terasa ketika kecelakaan lalu lintas masih menjadi persoalan serius di Kaltim.
Berdasarkan data yang disampaikan Kadit III Kamsel Ditlantas Polda Kaltim, Yusrie, sebanyak 102 orang meninggal dunia dalam 309 kecelakaan lalu lintas sepanjang Januari hingga Juli 2026. Kecelakaan tersebut didominasi sepeda motor, sementara sebagian besar korban berada pada rentang usia produktif 15–29 tahun. Angka itu menempatkan keselamatan berlalu lintas bukan sebagai urusan petugas di jalan semata. Ia menjadi perkara bersama, terutama bagi kelompok usia muda yang setiap hari bersentuhan dengan kendaraan dan lalu lintas.
Gagasan SAFEBRO dan SIGMA AI yang dibawa Zahra setidaknya menunjukkan satu arah pemikiran, teknologi dapat berjalan beriringan dengan pembentukan watak. Kecerdasan buatan tidak harus ditempatkan hanya sebagai piranti canggih, tetapi dapat diarahkan untuk memperkuat kesadaran manusia.
Pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya tampak dari kecanggihan teknologi dan pembangunan infrastrukturnya. Peradaban juga tercermin dari cara warganya menggunakan jalan: apakah saling menghormati, mematuhi aturan, menjaga keselamatan, dan bertanggung jawab terhadap pengguna jalan lainnya. Di jalan raya, hal-hal yang tampak sederhana itu justru menjadi perkara yang paling hakiki. Sebab, keselamatan bukan hanya tentang sampai di tujuan, melainkan memastikan orang lain pun mempunyai kesempatan yang sama untuk tiba dengan selamat. (kopi4/kopi3)




























