Beranda Kutai Timur Transformasi Posyandu di Kutim, Bukan Cuma Timbang Bayi Kini Layani 6 SPM

Transformasi Posyandu di Kutim, Bukan Cuma Timbang Bayi Kini Layani 6 SPM

1 views
0

Kegiatan peninjauan Posyandu Rawa Indah dan Posyandu Alamanda. Foto: Hasyim/Pro Kutim

SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) resmi memperkuat peran pos pelayanan terpadu atau posyandu melalui penerapan Integrasi Layanan Primer (ILP). Melalui pembaruan sistem ini, fungsi posyandu kini bertransformasi secara menyeluruh dan tidak lagi terbatas sekadar menimbang berat badan bayi.

Kini, posyandu berfungsi sebagai pusat pemenuhan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) langsung di tingkat desa dan kelurahan. Kebijakan strategis ini mengemuka dalam kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) lintas sektor yang dirangkaikan dengan pemberian vitamin A serta vaksinasi di Kecamatan Sangatta Utara, Jumat (14/8/2026).

Kegiatan peninjauan lapangan tersebut menyasar Posyandu Rawa Indah di Dusun Singa Karta (Desa Persiapan Teluk Rawa) serta Posyandu Alamanda di Dusun III (Desa Swarga Bara).

Hadir langsung dalam agenda ini Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kutim yang juga Pembina Posyandu Kutim Siti Robiah Ardiansyah, Camat Sangatta Utara Hasdiah Dohi, Kepala Desa Sangatta Utara Yulianti, serta perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMDes).

Dalam arahannya, Siti Robiah meminta para kader posyandu agar benar-benar memahami dan aktif menerapkan enam bidang SPM yang kini melekat pada institusi posyandu. Adapun keenam pelayanan dasar tersebut meliputi bidang kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat dan kawasan permukiman, ketenteraman dan ketertiban umum serta pelindungan masyarakat, dan bidang sosial.

“Di bidang kesehatan, misalnya. Jika ada warga yang sakit di wilayah kerja kader, posyandu bisa membuatkan surat rujukan ke puskesmas terdekat. Ini bukti bahwa pemerintah hadir hingga tingkat paling bawah,” ujar Siti.
Ia menegaskan, seluruh posyandu di Kutim kini telah terintegrasi dengan sistem ILP di mana seluruh layanannya dapat diakses masyarakat secara gratis. Guna memaksimalkan manfaatnya, warga diharapkan aktif memanfaatkan fasilitas kesehatan ini melalui sinergi bersama pengurus rukun tetangga (RT) dan kader posyandu setempat.

Siti juga menekankan pentingnya akurasi data tumbuh kembang anak guna menekan angka tengkes atau stunting. Ia bahkan menginstruksikan para kader untuk menerapkan sistem jemput bola jika menemui warga yang absen membawa anaknya ke posyandu.

“Jika ada orang tua yang tidak hadir, kader harus mengingatkan atau melakukan sistem jemput bola ke rumah warga. Hal tersebut boleh dilakukan, karena mengingatkan tentang kebaikan,” ucapnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati menjelaskan bahwa posyandu berbasis ILP kini dirancang untuk melayani seluruh siklus hidup manusia secara komprehensif mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Layanan kesehatan ini pun diselaraskan dengan pemenuhan SPM sektor lainnya seperti perumahan rakyat, permukiman, hingga pekerjaan umum.

Sebagai langkah nyata intervensi gizi masyarakat, Pemkab Kutim memprioritaskan pemberian vitamin A secara serentak yang rutin dilaksanakan setiap bulan Februari dan Agustus. Langkah preventif ini dinilai krusial sebagai strategi jangka panjang daerah dalam memangkas angka kasus tengkes.
“Pemberian vitamin A ini merupakan investasi kesehatan jangka panjang agar anak-anak tumbuh optimal, memiliki mata yang sehat, dan daya tahan tubuh yang kuat,” kata Yuwana.

Dalam pelaksanaan di lapangan, distribusi vitamin A disesuaikan secara ketat dengan aturan medis dan golongan usia anak. Bayi usia 6 hingga 11 bulan diberikan kapsul biru dengan takaran dosis 100.000 IU, sementara anak usia 12 hingga 59 bulan menerima kapsul merah dengan dosis 200.000 IU.(kopi6/kopi13)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini