Beranda Kutai Timur Rumah Kecil, Harapan Besar untuk Anak-Anak Bebas Stunting

Rumah Kecil, Harapan Besar untuk Anak-Anak Bebas Stunting

13 views
0

Teks foto: Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyuandi mengunjungi Rumah Rehabilitasi Stunting (vian Pro Kutim)

SANGATTA — Rumahnya mungkin kecil, tetapi persoalan yang hendak dijawab dari tempat itu sangat besar: bagaimana memastikan anak-anak Kutai Timur tumbuh sehat, memiliki gizi yang cukup, dan terbebas dari ancaman stunting.

Rumah Rehab Gizi Stunting di Kecamatan Sangatta Utara kini menjadi salah satu langkah awal untuk menjawab persoalan tersebut. Program ini dirancang bukan sekadar sebagai tempat pemberian makanan bergizi, tetapi sebagai ruang intervensi yang memadukan pemenuhan gizi, pemantauan tumbuh kembang, pendampingan keluarga hingga dukungan psikologis.

Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi menyebut Rumah Rehab Gizi Stunting Sangatta Utara sebagai pilot project yang nantinya dapat dikembangkan ke wilayah lain apabila terbukti efektif.

Pernyataan itu disampaikan Mahyunadi usai membuka Karnaval Anak TK di halaman Kantor Camat Sangatta Utara, Selasa (18/8/2026). Ia didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur dr. Yuwana Sri Kurniawati dan Camat Sangatta Utara Hasdiah.

“Rumah rehab stunting ini merupakan pilot proyek bagi Kabupaten Kutai Timur,” ujar Mahyunadi.

Menurutnya, pola penanganan di rumah tersebut dilakukan dengan pendekatan yang lebih aktif. Anak tidak hanya menunggu datang bersama orang tuanya. Jika orang tua tidak dapat membawa anak, tim kecamatan akan menjemputnya.

“Kalau orang tua tidak datang membawa anaknya, maka anak tersebut dijemput oleh tim kecamatan,” katanya.

Bagi Mahyunadi, pola ini penting karena intervensi stunting tidak boleh berhenti hanya karena keterbatasan keluarga. Pemerintah harus hadir dan memastikan anak yang membutuhkan penanganan tetap mendapatkan layanan.

Di Sangatta Utara, satu siklus program ditargetkan menangani sekitar 20 anak. Dengan lima siklus dalam setahun, kapasitas awal program mencapai sekitar 100 anak per tahun.

Namun, jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan. Mahyunadi menyebut terdapat 542 keluarga berisiko stunting (KRS) di Kecamatan Sangatta Utara.

“Ini pilot proyek. Kalau ini berhasil, mungkin kita upayakan tahun depan rumah rehab stunting ini bisa kita maksimalkan, baik di Kecamatan Sangatta Utara maupun di kecamatan-kecamatan lainnya,” tegasnya.
Kapasitas rumah tersebut pun masih terus diuji. Program yang awalnya dicoba dengan delapan anak kemudian meningkat menjadi 18 dan kini mampu menangani 20 anak.

“Awalnya dicoba delapan, kemudian 18. Ternyata hari ini 20 masih mampu. Mungkin yang akan datang kalau 20 ini masih mampu lagi, mungkin bisa 25,” kata Mahyunadi.

Meski demikian, kapasitas tersebut tetap harus disesuaikan dengan kemampuan tenaga pendamping agar kualitas pelayanan tidak menurun.

Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur dr. Yuwana Sri Kurniawati menempatkan Rumah Rehat Gizi Stunting sebagai bagian dari kerja daerah untuk mendukung agenda nasional penurunan prevalensi stunting.

“Pembentukan Rumah Rehab Gizi Stunting menjadi bagian dari upaya daerah mendukung target nasional penurunan prevalensi stunting menjadi 14,2 persen pada 2029,” ujar Yuwana.

Target tersebut merupakan sasaran resmi dalam RPJMN 2025–2029. Secara nasional, prevalensi stunting telah turun menjadi 19,8 persen pada 2024, dari 21,5 persen pada 2023.

Menurut Yuwana, angka nasional tersebut harus diterjemahkan menjadi tindakan konkret di daerah. Penanganan tidak cukup dilakukan setelah anak mengalami masalah pertumbuhan, tetapi harus dimulai dari identifikasi keluarga berisiko, intervensi gizi, pemantauan tumbuh kembang dan penguatan peran keluarga.
Di Rumah Rehat Gizi Stunting, pendekatan tersebut diperkuat dengan melibatkan tenaga profesional, yakni dr. Meita Togas, dokter spesialis tumbuh kembang anak, dr. Murni, dokter spesialis gizi klinik, serta psikolog.

Keterlibatan berbagai tenaga profesional membuat penanganan anak tidak hanya berfokus pada berat dan tinggi badan. Kondisi gizi, perkembangan anak, pola asuh dan aspek psikologis juga menjadi bagian dari perhatian.

Camat Sangatta Utara Hasdiah menjelaskan, gagasan pembentukan Rumah Rehat Gizi Stunting berangkat dari keinginan agar anak-anak berisiko stunting mendapatkan penanganan yang lebih menyeluruh.

Menurutnya, pemberian makanan bergizi hanya salah satu bagian dari upaya. Yang tidak kalah penting adalah memastikan orang tua memahami kebutuhan anak dan mampu menerapkan pengetahuan tersebut setelah program selesai.

“Tujuan kita sederhana, bagaimana anak-anak yang berisiko stunting ini bisa kita bantu supaya pertumbuhannya lebih baik. Jadi bukan hanya diberi makanan, tetapi kita lihat juga gizinya, pertumbuhannya dan bagaimana pendampingan kepada orang tuanya,” ujar Hasdiah.

Ia mengatakan, orang tua juga menjadi bagian penting dalam program tersebut. Mereka diberikan pemahaman mengenai pola makan dan pengasuhan agar perubahan tidak berhenti ketika anak meninggalkan Rumah Rehat Gizi Stunting.

“Kita ingin orang tua juga belajar. Setelah anak selesai mengikuti program di sini, orang tua bisa meneruskan pola yang sudah diajarkan di rumah,” katanya.

Persoalan pembiayaan menjadi tantangan tersendiri. Kebutuhan program disebut sekitar Rp1,8 miliar, sementara dukungan APBD yang tersedia sekitar Rp800 juta.

Karena itu, Kecamatan Sangatta Utara berupaya menggabungkan berbagai sumber dukungan. KPC memberikan bantuan sekitar Rp150 juta, di luar pembangunan rumah rehabilitasi. Sementara kebutuhan operasional, termasuk penjemputan anak, didukung melalui anggaran kecamatan.

Mahyunadi menilai langkah tersebut sebagai bentuk kreativitas di tingkat kecamatan untuk memastikan program tetap berjalan.
“Jadi inovasi Bu Camat, agar bisa berjalan semuanya walaupun tidak dalam satu mata anggaran,” ujarnya.

Ia juga membuka ruang koordinasi dengan perusahaan dan unsur lainnya untuk memperkuat dukungan program.

“Insya Allah kita akan segera maksimalkan supaya bisa lebih banyak lagi,” kata Mahyunadi.

Dengan 542 keluarga berisiko stunting di Sangatta Utara dan target nasional prevalensi stunting 14,2 persen pada 2029, pekerjaan yang dihadapi masih panjang.(kopi4)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini