Informasi kondisi kualitas udara dan imbauan penggunaan masker untuk mengurangi risiko paparan udara bagi kelompok rentan.
SANGATTA – Langit yang mulai tampak biasa tidak selalu berarti udara yang dihirup berada dalam kondisi tanpa risiko. Di Kutai Timur (Kutim), kualitas udara pada Selasa, (22/9/2026), berada pada indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) 76. Angka tersebut masuk kategori sedang dan secara umum masih aman bagi mayoritas penduduk. Namun, kondisi itu dapat memberi dampak berbeda bagi kelompok masyarakat yang lebih sensitif terhadap perubahan kualitas udara.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, menyampaikan pembaruan kondisi kualitas udara dan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan tersebut disampaikan pada Selasa yang sama, pukul 13.59 WITA.
“Secara rerata kondisi kualitas udara AQI di angka 76 (sedang). Pada level ini aman bagi mayoritas penduduk namun memperburuk gejala pada kelompok sensitif yaitu anak kurang 12 tahun, lansia, ibu hamil, penderita gangguan saluran pernapasan dan kardiovaskular,” kata Yuwana dalam informasinya.

Kategori sedang menunjukkan bahwa kualitas udara secara umum belum berada pada tingkat yang membahayakan mayoritas masyarakat. Kendati demikian, udara dengan kondisi tersebut tetap perlu diperhatikan oleh mereka yang memiliki kerentanan lebih tinggi. Kelompok sensitif yang disebutkan Dinkes mencakup anak berusia kurang dari 12 tahun, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pada saluran pernapasan dan kardiovaskular. Bagi kelompok tersebut, perubahan kualitas udara dapat memperburuk gejala yang telah ada.
Karena itu, kewaspadaan menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan sehari-hari. Dinkes Kutim menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker. Imbauan tersebut terutama relevan bagi kelompok yang lebih peka terhadap kondisi udara. Mengurangi paparan dari luar ruangan menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan ketika kualitas udara berada pada kategori yang berpotensi memperburuk gejala kelompok sensitif. Selain membatasi aktivitas di luar ruangan, masyarakat juga dianjurkan memperbanyak konsumsi air putih.
“Disarankan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memakai masker serta memperbanyak minum air putih,” ujar Yuwana.
Laporan Dinkes itu menjadi pengingat bahwa kualitas udara bukan hanya perkara angka pada indeks, melainkan berkaitan dengan ruang hidup dan kesehatan masyarakat. Nilai AQI 76 memang masih berada pada kategori sedang, tetapi kondisi tersebut perlu dibaca dengan mempertimbangkan siapa yang paling rentan terhadap dampaknya. Bagi mayoritas penduduk, kondisi udara tersebut masih tergolong aman. Namun, bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta mereka yang mempunyai gangguan pernapasan dan kardiovaskular, kewaspadaan tetap diperlukan.
Dengan demikian, langkah perlindungan sederhana seperti mengurangi kegiatan di luar ruangan, menggunakan masker, dan memperbanyak minum air putih menjadi anjuran yang disampaikan Dinkes Kutim untuk menghadapi kondisi kualitas udara tersebut.
Pembaruan kondisi ini disampaikan Yuwana kepada Bupati Kutim, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah Kabupaten, para Asisten, serta Kepala Perangkat Daerah sebagai bagian dari laporan mengenai kualitas udara dan risiko ISPA di wilayah Kutim. Kondisi udara dapat berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, pemantauan kualitas udara dan kewaspadaan masyarakat tetap menjadi bagian penting, terutama bagi kelompok yang memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap paparan udara yang kurang baik. (kopi3)





























