Beranda Kutai Timur Lebih Dekat Perjuangan Danton dan Pasukan 3 Kibarkan Merah Putih di Kutim

Lebih Dekat Perjuangan Danton dan Pasukan 3 Kibarkan Merah Putih di Kutim

14 views
0

Momen Pasukan 3 kibarkan Bendera Merah Putih saat Upacara HUT ke-81 RI. Foto: Irfan/Lintang Pro Kutim

SANGATTA – Di balik kibaran anggun Sang Saka Merah Putih yang mengangkasa sempurna di langit tersimpan kisah perjuangan, pengorbanan, dan keteguhan mental yang mendalam dari para putra-putri terbaik daerah. Sorotan utama liputan pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia ini mengarah pada Komandan Pleton Pengibaran dan Pasukan 3 yang bahu-membahu menuntaskan tugas paling krusial di Lapangan Kantor Bupati Kutai Timur (Kutim) Bukit Pelangi, Senin (17/8/2026) pagi.

Menjadi pimpinan barisan terdepan sekaligus eksekutor utama pengibaran bendera bukanlah amanah yang mudah. Setiap langkah, tempo, dan pergerakan menuntut ketepatan presisi serta ketahanan mental sekuat baja di hadapan ribuan pasang mata penonton dan pejabat daerah.

Beban psikologis terbesar dipikul oleh Akhmad Annur, siswa SMAN 1 Sangatta Utara kelahiran Sangatta pada 5 Oktober 2009. Putra dari pasangan Bismahuddin dan Nur Lenni ini dipercaya mengemban posisi vital sebagai Komandan Pleton (Danton) Pengibaran.

Sebelum tampil memukau di lapangan, perjalanan Akhmad diwarnai ujian berat selama masa pemusatan latihan di Sangatta. Seluruh calon danton putra harus melewati seleksi fisik dan ketahanan suara yang sangat ketat. Intensitas latihan menggembleng vokal komando yang begitu tinggi sempat membuat pita suaranya sakit hingga habis suara. Kondisi medis tersebut sempat memaksa tim pelatih untuk mengistirahatkannya sementara waktu dari posisi pimpinan barisan.

“Pada saat latihan saya pernah kehabisan suara sampai tenggorokan sakit sekali. Saya bahkan sempat diistirahatkan dan tidak dipasang sebagai komandan karena suara benar-benar hilang. Rasa khawatir tentu ada, tapi alhamdulillah saat hari H tepat Sabtu 17 Agustus ini suara saya kembali pulih dan bisa memimpin barisan dengan maksimal,” kenang Akhmad Annur.

Rasa gugup dan tegang tak dipungkiri sempat menggelayuti perasaan Akhmad saat menunggu detik-detik memasuki lapangan upacara di Bukit Pelangi. Namun, begitu aba-aba pertama diteriakkan dan langkah kaki mulai menghentak bumi, rasa percaya diri dan ketenangan langsung meruap mengalahkan semua kecemasan.

“Kunci utamanya adalah keberanian untuk memulai dan mempersiapkan segala hal secara matang. Kita tidak boleh terbebani atau takut duluan akan hasil akhir, yang penting berikan usaha terbaik yang kita miliki di lapangan,” tambah Akhmad.

Jika Danton menjadi penentu komando pergerakan barisan, maka Pasukan 3 adalah penentu kesempurnaan momen pengibaran di bawah tiang bendera. Formasi inti ini dihuni oleh tiga pemuda tangguh yang berasal dari wilayah terpisah di Kabupaten Kutim.

Tugas sebagai pembentang bendera dipercayakan kepada Andri Benyamin, pelajar SMAN 1 Sangatta Selatan kelahiran Palangkaraya, 27 Agustus 2009, putra dari pasangan Sunardi Rangkap dan Marinit. Posisi Komandan Kelompok (Danpok) 3 dipegang oleh Marten Ozi Fery Febrian Wejaya, siswa SMAN 1 Muara Wahau kelahiran Nehas Liang Bing, 10 Februari 2010, putra dari pasangan Beang Abu dan Susanti. Sementara posisi penggerek bendera diemban oleh Mettew Alin Grifith, siswa SMAN 2 Sangatta Utara kelahiran Samarinda, 25 September 2009, putra dari pasangan Aris Popang D dan Lince Paembonan.

Keberadaan mereka dalam satu tim menyimpan cerita unik dan tantangan tersendiri. Andri Benyamin mengaku sempat terkejut dan tak menyangka ketika mendadak ditunjuk oleh tim pelatih untuk memegang peran vital sebagai pembentang bendera Merah Putih.

“Jujur awal ditunjuk sempat terkejut sekali. Rasa cemas dan grogi terus membayangi saat membentang kain Merah Putih karena khawatir ada kendala teknis. Namun, begitu mengingat kebanggaan besar untuk membawa nama keluarga, sekolah, dan daerah Kutai Timur, keraguan itu langsung sirna digantikan rasa optimistis,” tutur Andri Benyamin.

Tantangan menyatukan tiga kepala dari latar belakang wilayah yang berjauhan juga dirasakan betul oleh anggota Pasukan 3 lainnya. Marten Ozi Fery Febrian Wejaya menekankan betapa pentingnya menjaga fokus dan ketenangan selama berada di titik nol bawah tiang bendera.

“Sebagai Danpok 3, tanggung jawab saya adalah menjaga ritme dan konsentrasi rekan-rekan. Di bawah tiang bendera, kunci utamanya hanya satu tenang, percaya pada latihan berbulan-bulan, dan saling mendukung satu sama lain,” tegas Marten Ozi Fery Febrian Wejaya.

Perbedaan asal daerah antara Sangatta Utara, Sangatta Selatan, dan Muara Wahau tak menjadi penghalang bagi mereka untuk merajut sinergi yang utuh dalam waktu singkat.

“Kami ini berasal dari kecamatan yang berbeda-beda dan sebelumnya belum pernah berinteraksi sama sekali. Jadi tantangan terbesarnya adalah bagaimana menyatukan chemistry dan kekompakan dalam waktu singkat. Kami bersaing secara sehat, berlatih keras bersama setiap hari, hingga akhirnya bisa tampil solid membanggakan orang tua dan daerah,” ungkap Mettew Alin Grifith.

Keberhasilan pengibaran Sang Saka Merah Putih pada Senin pagi tersebut tak sekadar menjadi pelengkap seremoni upacara HUT ke-81 RI di Kutim, melainkan simbol kegigihan pemuda dalam mengatasi keterbatasan dan perbedaan.

Mengakhiri momen bersejarah bagi mereka ini, para anggota Paskibraka menitipkan pesan mendalam bagi seluruh generasi muda di Kutim maupun Indonesia untuk terus berlatih, mempersiapkan diri sejak dini, dan tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita, sembari mengumandangkan doa dan harapan terbaik untuk kejayaan Bangsa Indonesia.

“Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia!” seru mereka dengan lantang dan kompak.(kopi8/kopi13)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini