Forum Pelapak Sangatta Utara saat melakukan dialogFoto: Dewi/Pro Kutim
SANGATTA – Forum Pelapak Sangatta Utara (FPSU) mengambil langkah mandiri dengan mengambil alih pengelolaan kawasan lapak. Kebijakan ini ditempuh menyusul pengelolaan sebelumnya di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang dinilai belum berjalan sesuai harapan.
Ketua FPSU, Andi Ibrahim, menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil demi menjamin keberlangsungan mata pencaharian para pedagang yang selama ini menggantungkan hidupnya di kawasan tersebut. Selain itu, forum juga berfokus memfasilitasi kegiatan sosial masyarakat serta menjaga aset yang berada dalam penguasaan pemerintah.
Langkah pengambilalihan ini dilakukan di tengah rencana jangka panjang Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) untuk menata kembali kawasan tersebut menjadi bagian dari ruang publik “Taman Bersemi”. Berdasarkan proyeksi pemerintah, realisasi pembangunan fisik kawasan itu diperkirakan baru akan berjalan setelah ketersediaan anggaran terpenuhi, termasuk opsi pelaksanaan pada tahun 2028 mendatang.

Kendati demikian, Andi menegaskan bahwa para pedagang tidak berniat menghambat program pembangunan pemerintah. Pihaknya berkomitmen untuk tetap kooperatif dan siap bergeser kapan pun pemerintah membutuhkan lahan tersebut untuk kepentingan penataan kota.
“Setelah anggarannya ada, bukan berarti penjual di sini mau tinggal terus di sini. Bilamana pemerintah membutuhkan, kita harus siap,” ujar Andi saat berdialog di sela-sela Turnamen Domino APBS Kutim, Sabtu (3/10/2026) malam.
Selain menjaga eksistensi lapak dagangan, forum juga menyediakan ruang sekretariat guna mewadahi aktivitas permainan domino masyarakat. Andi menyebutkan bahwa permainan domino kini telah masuk dalam kategori olahraga rekreasi yang digemari warga.
Dengan aktivitas permainan yang terkadang berlangsung hingga dini hari, forum berinisiatif menata kegiatan tersebut agar tetap terarah. Fasilitas ini sekaligus menjadi strategi untuk menghidupkan roda ekonomi para pedagang sekitar agar tetap dapat berjualan secara tertib, tanpa menjadikannya sebagai tempat bermalam bagi para pengunjung.
“Bukan bermalam di sini. Domino ini kan kadang-kadang sampai jam tiga subuh, jadi kita fasilitasi supaya orang-orang bisa menjual dan hidup,” jelasnya.

Melalui peran aktif ini, Forum Pelapak Sangatta Utara berharap dapat menjadi jembatan yang menyelaraskan antara kebutuhan ekonomi masyarakat kecil dan agenda pembangunan pemerintah daerah. Dengan komunikasi yang baik, masa transisi pemanfaatan kawasan diharapkan tetap memberikan ruang yang adil bagi para pedagang sebelum proyek penataan resmi dimulai.(kopi15/kopi13/kopi3)






























