Beranda Pendidikan Lulusan STIPER Ditantang Ubah Potensi Pertanian Jadi Kekuatan Ekonomi Kutim

Lulusan STIPER Ditantang Ubah Potensi Pertanian Jadi Kekuatan Ekonomi Kutim

9 views
0

Teks foto:
Asisten Administrasi Umum Sekretariat Kabupaten Kutai Timur Idham Kholid mewakili Bupati Kutai Timur menyampaikan sambutan pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke-21 STIPER Kutai Timur Tahun 2026 di Ruang Akasia, GSG Bukit Pelangi, Sangatta, Rabu (7/10/2026). Foto: Dewi/Pro Kutim

SANGATTA – Ketergantungan Kutai Timur terhadap sektor pertambangan tidak dapat menjadi satu-satunya sandaran ekonomi daerah dalam jangka panjang. Di tengah sumber daya tambang yang terbatas, pertanian dalam arti luas perlu dipersiapkan sebagai salah satu fondasi ekonomi masa depan. Persoalan itu sekaligus menempatkan lulusan Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Kutai Timur pada posisi strategis. Mereka tidak cukup hanya mencari pekerjaan setelah memperoleh gelar sarjana, tetapi dituntut mampu menciptakan inovasi, mengembangkan usaha, membuka lapangan kerja, dan membawa teknologi ke tengah masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Asisten Sekretaris Daerah Kabupaten Bidang Administrasi Umum, Idham Kholid, saat mewakili Bupati Kutai Timur dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke-21 STIPER Kutai Timur Tahun 2026, Rabu (7/10/2026), di Ruang Akasia, Gedung Serba Guna (GSG) Bukit Pelangi, Sangatta.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Idham Kholid, menegaskan bahwa transformasi ekonomi tidak cukup dilakukan dengan mengalihkan perhatian dari satu sektor ke sektor lainnya. Hal yang lebih penting ialah membangun kemampuan daerah untuk menghasilkan nilai tambah dari potensi yang dimiliki sendiri.

Kutai Timur memiliki lahan dan sumber daya yang memungkinkan pengembangan pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, hingga kelautan. Namun, potensi tersebut belum akan menjadi kekuatan ekonomi apabila komoditas yang dihasilkan hanya keluar dari daerah dalam bentuk bahan mentah. Karena itu, hilirisasi menjadi pekerjaan penting. Hasil pertanian dan perkebunan perlu didorong masuk ke proses pengolahan di daerah sehingga nilai ekonominya tidak berhenti pada tahap produksi. Semakin panjang mata rantai nilai yang dapat dibangun di Kutai Timur, semakin besar pula peluang munculnya usaha baru dan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

“Pertanian dalam arti luas harus dijadikan sebagai fondasi utama perekonomian Kutai Timur di masa depan,” sebut Bupati.

Perubahan tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memahami teori pertanian, tetapi juga mampu membaca persoalan di lapangan. Di sinilah lulusan STIPER memiliki ruang untuk mengambil peran, mulai dari produksi, pengolahan, pemasaran, teknologi pertanian, hingga pengembangan bisnis berbasis komoditas lokal. Tantangan itu semakin besar karena pertanian kini bergerak menuju pemanfaatan teknologi. Drone, pengolahan data, otomasi, sensor, hingga kecerdasan buatan dapat membantu petani meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Namun, teknologi tidak boleh dipahami sekadar sebagai perangkat modern. Nilai sebenarnya terletak pada kemampuan menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan nyata, seperti menekan biaya produksi, meningkatkan hasil, mengantisipasi perubahan kondisi lahan dan cuaca, serta membantu petani mengambil keputusan berdasarkan data. Karena itu, lulusan STIPER diharapkan mampu menjadi penghubung antara pengetahuan akademik dan kebutuhan petani. Mereka dapat berperan sebagai inovator, pendamping, pengusaha, peneliti, maupun pengembang teknologi yang membuat praktik pertanian lebih produktif dan bernilai ekonomi.

Perubahan orientasi juga diperlukan di kalangan generasi muda. Gelar sarjana tidak semestinya hanya menjadi tiket untuk mencari pekerjaan, terutama di tengah keterbatasan lapangan kerja formal. Pengetahuan pertanian justru membuka ruang untuk membangun usaha dari potensi yang tersedia di sekitar. Agribisnis, industri pengolahan, usaha pangan, peternakan, perkebunan, perikanan, maupun jasa berbasis teknologi pertanian dapat menjadi ruang tumbuh bagi lulusan baru. Jika dikembangkan secara serius, usaha tersebut bukan hanya menciptakan pendapatan bagi pelakunya, tetapi juga membuka pekerjaan bagi masyarakat lain. Di titik itu, peran STIPER menjadi semakin strategis. Perguruan tinggi pertanian tidak hanya dituntut menghasilkan sarjana yang menguasai disiplin ilmu, tetapi juga manusia yang mampu membaca perubahan ekonomi dan menerjemahkan pengetahuan menjadi solusi.

“STIPER bukan sekadar mencetak sarjana, tetapi menyiapkan penggerak transformasi di Kutai Timur menuju ekonomi yang lebih mandiri,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutan Bupati.

Transformasi tersebut pada akhirnya bukan hanya persoalan mengganti dominasi sektor tambang dengan sektor pertanian. Yang lebih penting ialah membangun struktur ekonomi yang menghasilkan nilai tambah di dalam daerah, memperkuat pelaku usaha lokal, meningkatkan produktivitas masyarakat, dan memperluas sumber pendapatan daerah. Untuk itu, pemerintah daerah menyatakan membuka ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, petani, dan masyarakat. Kolaborasi diperlukan agar pengetahuan yang berkembang di kampus tidak berhenti menjadi teori, tetapi dapat diterapkan untuk menjawab persoalan produksi dan ekonomi yang dihadapi masyarakat.

Bagi 65 lulusan STIPER yang diwisuda tahun ini, gelar sarjana menjadi awal dari tanggung jawab baru. Mereka memasuki dunia yang membutuhkan kemampuan untuk menciptakan, bukan sekadar menunggu pekerjaan. Mengolah, bukan hanya menjual bahan mentah. Serta menemukan solusi, bukan sekadar mengidentifikasi persoalan. Jika kemampuan tersebut dapat diwujudkan, lulusan STIPER tidak hanya menjadi tambahan tenaga kerja terdidik di Kutai Timur. Mereka dapat menjadi bagian dari perubahan struktur ekonomi daerah, dari daerah yang dikenal karena kekayaan sumber daya alam menjadi daerah yang mampu menciptakan nilai melalui pengetahuan, inovasi, dan sumber daya manusianya. (kopi15/kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini