Teks foto
Ketua STIPER Kutai Timur Ismail Fahmy Almadi bersama Kapolres Kutai Timur AKBP Aryansyah, Ketua PMI Kutim Kasmidi Bulang, dan Camat Kaubun Saprani usai penandatanganan kerja sama di Ruang Akasia, Gedung Serba Guna Bukit Pelangi, Sangatta, Rabu (7/10/2026). Foto Dewi/Pro Kutim.
SANGATTA – Ketahanan pangan, kegiatan kemanusiaan, dan pengabdian mahasiswa menjadi tiga ruang yang diperkuat melalui kolaborasi lintas lembaga di Kutai Timur. Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama antara STIPER Kutai Timur dengan Polres Kutim, PMI Kutim, dan Pemerintah Kecamatan Kaubun di Ruang Akasia, Gedung Serba Guna Bukit Pelangi, Sangatta, Rabu (7/10/2026).
Kerja sama tersebut tidak hanya memperluas jejaring kelembagaan perguruan tinggi, tetapi juga membuka ruang bagi pengetahuan dan keterampilan mahasiswa untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Salah satu fokus kerja sama adalah penguatan ketahanan pangan. Polres Kutim dan STIPER Kutim sepakat membangun sinergi dalam mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional. Kesepakatan tersebut ditandatangani Kapolres Kutai Timur AKBP Aryansyah bersama Ketua STIPER Kutim Ismail Fahmy Almadi.

Kolaborasi tersebut menempatkan perguruan tinggi pada peran yang lebih aktif dalam penguatan program pangan. Pengetahuan akademik, riset, teknologi, dan sumber daya di bidang pertanian dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber pangan.
Bagi STIPER, kerja sama tersebut menjadi ruang untuk membawa ilmu pertanian keluar dari ruang kuliah. Mahasiswa dan sivitas akademika dapat terlibat dalam pendampingan, pengembangan inovasi, serta penerapan pengetahuan yang sesuai dengan kondisi pertanian di Kutai Timur. Ruang pengabdian lainnya dibangun bersama PMI Kutim melalui kerja sama pembentukan, pembinaan, pengembangan, dan penguatan Korps Sukarela PMI di lingkungan STIPER. Kesepakatan tersebut ditandatangani Ketua PMI Kutim Kasmidi Bulang bersama Ketua STIPER Kutim Ismail Fahmy Almadi.
Keberadaan Korps Sukarela di lingkungan kampus diharapkan tidak berhenti pada pembentukan organisasi kerelawanan. Mahasiswa memiliki kesempatan memperoleh pengalaman langsung dalam kegiatan kemanusiaan, kepalangmerahan, pertolongan, dan pelayanan sosial yang membutuhkan kesiapan sekaligus kepedulian terhadap sesama.

Dengan demikian, pendidikan mahasiswa tidak hanya diarahkan pada penguasaan kompetensi akademik. Pengalaman berorganisasi dan keterlibatan dalam kegiatan kemanusiaan dapat membentuk kepekaan sosial yang penting ketika mereka memasuki dunia kerja dan berinteraksi dengan masyarakat.
Sementara itu, kerja sama dengan Pemerintah Kecamatan Kaubun diarahkan pada pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata atau KKN. Perjanjian tersebut ditandatangani Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STIPER Kutim Zainuddin Saleh bersama Camat Kaubun Saprani.
KKN menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dalam situasi masyarakat yang sesungguhnya. Karena itu, program yang dijalankan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan temporer, tetapi disusun berdasarkan potensi, persoalan, dan kebutuhan masyarakat di wilayah penempatan.
Ketua STIPER Kutai Timur Ismail Fahmy Almadi mengatakan, kerja sama lintas lembaga menjadi bagian penting dalam memperluas kontribusi perguruan tinggi. Menurutnya, kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga harus mampu menghadirkan manfaat melalui ilmu pengetahuan yang dimiliki.
“Kerja sama ini harus menghasilkan kegiatan yang nyata dan memberikan manfaat. Kami ingin ilmu yang ada di kampus bisa diterapkan dan dirasakan masyarakat,” ujar Fahmy.

Tiga jalur kolaborasi tersebut mempertemukan fungsi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan kebutuhan pembangunan daerah. Ketahanan pangan membutuhkan pengetahuan dan inovasi, kegiatan kemanusiaan membutuhkan relawan yang terlatih, sementara pembangunan masyarakat membutuhkan keterlibatan generasi muda secara langsung.
Melalui pola kerja sama tersebut, STIPER Kutim memiliki ruang yang lebih luas untuk memperkuat perannya dalam ekosistem pembangunan daerah. Ukuran keberhasilannya tidak berhenti pada dokumen kerja sama, tetapi pada sejauh mana program yang lahir dari kolaborasi tersebut mampu memberikan manfaat bagi masyarakat Kutai Timur. (kopi10/kopi4/kopi3)






























