Beranda Kutai Timur Pendidikan Anak Tak Cukup di Kurikulum, SMK Keperawatan Singa Geweh Dukung DPPPA

Pendidikan Anak Tak Cukup di Kurikulum, SMK Keperawatan Singa Geweh Dukung DPPPA

40 views
0

Wakil Kepala Sekolah SMK Keperawatan, Mulyanto. Foto: Lintang/Pro Kutim

SANGATTA – Pendidikan bagi anak tidak hanya sebatas materi yang diajarkan di ruang kelas. Bekal pengetahuan mengenai ancaman penyalahgunaan narkoba dan bahaya pornografi juga dinilai menjadi bagian penting dalam membentuk karakter dan masa depan generasi muda.

Hal tersebut disampaikan Wakil Kepala SMK Keperawatan Singa Geweh, Mulyanto, usai kegiatan Sosialisasi Perlindungan Terhadap Anak dari Ancaman Narkoba dan Pornografi yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kutim di sekolah tersebut, Selasa (28/7/2026).

Kegiatan yang menyasar puluhan siswa beserta perwakilan orang tua itu merupakan bagian dari upaya preventif DPPPA untuk meningkatkan kesadaran anak terhadap bahaya penyalahgunaan narkoba dan paparan konten pornografi sejak dini.

Mewakili Kepala DPPPA Kutim Idham Cholid, Kepala Bidang Perlindungan Khusus Anak Riduan menjelaskan, sosialisasi tersebut merupakan salah satu program perlindungan anak yang memerlukan perlindungan khusus. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2021, terdapat 15 kategori anak yang membutuhkan perlindungan khusus, di antaranya anak korban penyalahgunaan narkoba, anak korban pornografi, hingga anak yang berhadapan dengan hukum.

Karena itu, sekolah dipilih sebagai salah satu sasaran utama mengingat pelajar merupakan kelompok yang rentan terhadap berbagai pengaruh negatif tersebut.

“Kami berharap sosialisasi ini dapat meminimalisir anak-anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba maupun korban pornografi,” ujarnya.

Mulyanto menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, materi mengenai perlindungan anak dari ancaman narkoba dan pornografi merupakan pendidikan tambahan yang tidak seluruhnya dapat diperoleh melalui kurikulum di sekolah.

“Anak-anak tidak hanya membutuhkan pendidikan yang berbasis kurikulum. Sosialisasi semacam ini menjadi pendidikan tambahan yang tidak ada di kurikulum, dan juga penting untuk bekal mereka dalam menyongsong masa depan yang lebih baik,” ungkapnya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan agar peserta didik memperoleh pemahaman langsung dari instansi yang memiliki kompetensi di bidang perlindungan anak.

“Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut. Anak-anak membutuhkan pemahaman langsung dari instansi yang berkompeten agar mereka semakin sadar terhadap berbagai ancaman yang ada di lingkungan maupun di media digital,” katanya.

Menurut Mulyanto, SMK Keperawatan Singa Geweh juga telah memiliki sejumlah program pendukung untuk membangun karakter peserta didik, mulai dari layanan konseling, pembinaan karakter, hingga organisasi perlindungan anak yang berperan mengedukasi teman sebaya mengenai bullying dan berbagai bentuk kekerasan terhadap anak.

Melalui sinergi antara sekolah, pemerintah, aparat penegak hukum, psikolog, orang tua, dan masyarakat, diharapkan upaya perlindungan anak dapat berjalan lebih optimal sehingga generasi muda Kutai Timur tumbuh menjadi pribadi yang sehat, tangguh, dan terlindungi dari berbagai ancaman sosial.(kopi17/kopi13)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini