Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Diskepang) Kutim, Dyah Ratnaningrum saat diwawancarai usai dilantik. Foto: Lintang/Bagus/Ronny Pro Kutim
SANGATTA – Dyah Ratnaningrum resmi menjabat sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Diskepang) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), setelah sebelumnya dipercaya memimpin Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim.
Pelantikan dan pengambilan sumpah/janji Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (PTP)di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutim Tahun 2026 berlangsung di Ruang Meranti Kantor Bupati Kutim, Jumat (28/8/2026) pagi. Dalam pelantikan tersebut, sebanyak lima pejabat pimpinan tinggi pratama mengalami rotasi jabatan.
Selain Dyah Ratnaningrum yang sebelumnya menjabat Kepala DTPHP menjadi Kepala Diskepang, Ade Achmad Yulkafilah yang sebelumnya Kepala BPKAD dipercaya sebagai Kepala Disperindag. Idham Cholid yang sebelumnya Kepala DPPPA menjadi Asisten Administrasi Umum (Admum). Kemudian Nora Ramadani yang sebelumnya Kepala Disperindag menjadi Staf Ahli Bidang Perekonomian, Pembangunan dan Keuangan, serta Failu yang sebelumnya Kepala Damkar dan Penyelamatan menjadi Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan, Administrasi Umum dan HAM.

Usai dilantik, Dyah mengatakan perpindahan tugas tersebut tidak membuatnya harus banyak beradaptasi lantaran bidang ketahanan pangan masih memiliki keterkaitan erat dengan pekerjaan sebelumnya di sektor pertanian.
“Tempat yang sebenarnya hampir mirip dengan pertanian. Jadi kalau pertanian itu di hulunya, nah harus ada yang menangani di hilirnya,” ujar Dyah.
Menurutnya, salah satu pekerjaan yang langsung menjadi perhatian adalah memastikan hasil produksi petani dapat terserap pasar. Terlebih, pada September mendatang, wilayah Kaubun diperkirakan memasuki masa panen raya dengan produksi mencapai sekitar 3.000 ton.
“Ini harus diatasi, gimana caranya agar ini bisa terserap pasar, gimana caranya untuk menangani gabah kering panennya, dan sebagainya. Kemudian kita juga harus menangani dari sisi kualitas berasnya,” jelasnya.

Dyah menilai persoalan hilirisasi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Menurutnya, produksi di tingkat hulu tidak akan berjalan optimal apabila hasil pertanian tidak diikuti dengan pengelolaan, distribusi, serta penyerapan di tingkat hilir.
Ia menyebut tanggung jawab tersebut juga menjadi bentuk komitmen moral kepada para petani yang selama ini terus didorong untuk meningkatkan produksi.
“Kalau hilirnya tidak dikerjakan, hulunya ini akan berhenti. Ini juga menjadi tanggung jawab moral saya ke petani yang kemarin disuruh tanam,” katanya.
Salah satu infrastruktur yang menjadi perhatian Dyah adalah Rice Processing Unit (RPU). Ia mengatakan fasilitas tersebut harus dapat dimanfaatkan secara optimal mengingat besarnya anggaran pemerintah yang telah dikeluarkan dan kebutuhan petani terhadap fasilitas pengolahan hasil panen.
Menurutnya, sebelum dimanfaatkan secara maksimal, sejumlah hal masih perlu dibenahi, termasuk kesiapan sumber daya manusia serta legal standing pengelolaan RPU.

Dyah mencontohkan kondisi di Kaubun yang saat ini mengalami peningkatan produktivitas. Jika sebelumnya hasil panen berada di kisaran 3,5 hingga 4 ton, kini produksi rata-rata mencapai sekitar 6,4 ton, bahkan terdapat hasil panen hingga 7,4 ton dalam satu kali panen.
Kondisi tersebut membuat dua RMU yang selama ini digunakan dinilai tidak lagi mampu mengimbangi peningkatan produksi. Karena itu, keberadaan RPU diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi untuk menangani hasil panen petani.
“Kalau bisa bermanfaat dengan baik, itu keren banget. Enggak ada di Kaltim ini,” ungkapnya.
Tak hanya komoditas padi, Dyah juga menyoroti potensi komoditas pisang di Kecamatan Selangkau. Ia menyebut pengelolaan hasil pertanian di wilayah tersebut perlu diperkuat agar produksi di tingkat hulu dapat terserap dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Terkait fasilitas pengolahan tepung pisang yang disebut belum dimanfaatkan secara optimal, Dyah mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi dan meninjau kembali kondisi fasilitas tersebut.
“Nanti kita evaluasi. Kalau memang ini harus kita manfaatkan, kita manfaatkan. Tapi memang di Selangkau ini sumber pisang. Pisang di Selangkau. Nah, ini juga harus kita garap hilirnya karena kalau tidak, nanti hulunya berhenti,” tandasnya.
Memasuki jabatan barunya, Dyah menegaskan dirinya akan melanjutkan pekerjaan yang sebelumnya telah dilakukan di sektor pertanian, namun dengan fokus yang lebih kuat pada sisi hilir, mulai dari penyerapan hasil produksi, distribusi hingga menjaga kualitas pangan.
“Insya Allah tempat yang baru, semangat yang baru. Mudah-mudahan saya akan berjuang maksimal untuk bisa membantu di hilirnya, sehingga di hulunya ini tetap bergerak dengan baik,” pungkasnya.(kopi17/kopi13/kopi3)




























