Beranda Humas Kutim Dua Mitra Lokal KPC Perkenalkan Potensi Usaha dan Produk Lokal Kutim 

Dua Mitra Lokal KPC Perkenalkan Potensi Usaha dan Produk Lokal Kutim 

79 views
0

Penyampaian presentasi oleh Mitra Lokal KPC. Foto: Lintang/Pro Kutim 

SANGATTA — Forum Komunikasi CSR dan Kontraktor PT Kaltim Prima Coal (KPC) di Wisma Rayah KPC, Selasa (1/9/2026), turut menjadi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan potensi dan kapasitas mereka sebagai mitra dalam program Local Business Development (LBD) PT KPC.

Dalam kegiatan tersebut, dua mitra lokal KPC, yakni PT Baja Murni Mandiri (BMM) dan Komunitas Pembatik Kutai Timur (Kutim), memaparkan perkembangan usaha sekaligus peluang kolaborasi dengan perusahaan maupun pemerintah daerah.

Direktur PT Baja Murni Mandiri, Eko Sugiarto, menyampaikan bahwa keberadaan perusahaan lokal merupakan bagian dari upaya mendukung kebijakan pemerintah daerah, khususnya dalam implementasi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2022 tentang Ketenagakerjaan serta Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 6 Tahun 2024.

Menurutnya, regulasi tersebut turut menekankan pentingnya kearifan lokal dalam penyerapan tenaga kerja serta memberikan ruang lebih besar bagi tenaga kerja dan perusahaan lokal untuk berpartisipasi dalam dunia usaha.

“Di mana tenaga kerja lokal dan juga perusahaan lokal diberikan kesempatan atau porsi yang lebih untuk dapat berpartisipasi dan berperan serta,” ujar Eko dalam pemaparannya.

Ia menjelaskan, PT BMM bergerak di bidang pengamanan, general supplier, dan kontraktor. Khusus sektor pengamanan, pihaknya mendorong agar perusahaan pengguna jasa memperhatikan legalitas serta kompetensi tenaga pengamanan maupun badan usaha jasa pengamanan (BUJP) yang digunakan.

Eko juga menekankan kesiapan perusahaan lokal untuk memenuhi standar yang dipersyaratkan, termasuk kepemilikan sertifikasi dan perizinan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kita menyadari juga sebagai perusahaan lokal, kita harus siap dari segala cuaca, yaitu mempersiapkan perangkat-perangkat sumber daya manusia dan lisensi atau izin,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Eko turut memperkenalkan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang telah memperoleh lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Ia menyebut keberadaan lembaga tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat kompetensi tenaga kerja di Kutim sehingga masyarakat tidak perlu keluar daerah untuk memperoleh sertifikasi profesi. PT BMM juga disebut telah menyelenggarakan pelatihan bagi tenaga pengamanan sebanyak 15 kali, termasuk uji kompetensi. Kegiatan tersebut akan kembali dilanjutkan pada bulan berikutnya.

Selain sektor jasa pengamanan, Forum Komunikasi CSR dan Kontraktor KPC juga menjadi wadah bagi Komunitas Pembatik Kutim untuk memperkenalkan potensi kerajinan batik lokal.

Perwakilan Komunitas Pembatik Kutim, Ises, mengatakan komunitas tersebut berdiri sejak 2017 dan awalnya hanya beranggotakan empat orang. Kini jumlah pembatik yang tergabung telah berkembang menjadi 12 orang.

Ia menyampaikan apresiasi kepada PT KPC yang selama ini turut mendukung perkembangan komunitas, baik melalui bantuan fasilitas peralatan maupun pelatihan untuk meningkatkan keterampilan para pembatik.

“Kami ingin mengenalkan bahwa kami ada di Kutai Timur ini, dan kami juga turut melestarikan dan mengembangkan potensi budaya yang ada di Kutai Timur melalui kain-kain yang kami hasilkan,” ujar Ises.

Dalam pemaparannya, Ises memperkenalkan sejumlah merek dan pembatik yang tergabung dalam komunitas tersebut. Di antaranya Batik Paku yang mengangkat karakter akar paku atau pakis khas Kalimantan, Juwita Batik dengan motif kelubut dan bunga karamunting, serta karya pembatik lainnya yang mengembangkan motif berdasarkan kekayaan alam dan budaya Kutai Timur.

Komunitas tersebut juga terus melakukan inovasi, termasuk melalui penggunaan pewarna alam. Salah satunya memanfaatkan limbah kayu ulin sebagai bahan pewarna dalam proses produksi batik.

Ises sendiri memperkenalkan Batik Teluk Ramos yang mengangkat unsur budaya Dayak melalui motif-motif yang terinspirasi dari kebudayaan setempat. Sementara pembatik lainnya mengembangkan motif kontemporer yang ditujukan untuk menarik minat generasi muda.

Menurutnya, para pembatik lokal tidak hanya mengembangkan ciri khas masing-masing, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk mengangkat identitas Kutai Timur. Salah satunya melalui penggunaan motif Wakaroros sebagai salah satu ciri khas daerah.

“Kami harus mengkombinasikan dengan motif yang ciri khas Kutai Timur, yaitu Wakaroros. Nah, ini kewajiban kami sebagai pembatik lokal yang melakukan pembatikannya di Kutai Timur,” jelasnya.

Ia berharap keberadaan komunitas pembatik lokal semakin dikenal oleh pemerintah maupun perusahaan yang beroperasi di Kutim. Menurutnya, peluang penggunaan produk lokal, termasuk batik untuk kebutuhan seragam perusahaan dan instansi, dapat membantu meningkatkan perekonomian para pengrajin.

“Harapannya, Bapak/Ibu yang ada di sini, semua kontraktor dan pemerintah, bisa memakai kami untuk mengadakan seragam,” katanya.

Ises menilai penggunaan produk lokal tidak hanya menjadi bentuk dukungan terhadap pelaku usaha, tetapi juga dapat membantu menjaga keberlanjutan usaha para pengrajin. Sebab, sebagian anggota komunitas merupakan pensiunan maupun ibu rumah tangga yang menjadikan kegiatan membatik sebagai salah satu sumber penghasilan.

Melalui forum tersebut, PT KPC mendorong agar keberadaan mitra usaha lokal semakin dikenal dan memiliki kesempatan untuk berkembang melalui kolaborasi dengan perusahaan, pemerintah, serta berbagai pemangku kepentingan di Kutim.

Penguatan kapasitas perusahaan dan pengrajin lokal diharapkan tidak hanya membuka peluang ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem usaha lokal yang mampu bersaing dan memenuhi kebutuhan dunia industri di daerah.(kopi17/kopi13/kopi3) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini