Beranda Kutai Timur Pastori Berdiri, Mahyunadi Titip Kerukunan dan Pembangunan Manusia

Pastori Berdiri, Mahyunadi Titip Kerukunan dan Pembangunan Manusia

41 views
0

Teks foto: Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi meresmikan Pastori Gereja Toraja Jemaat Marendeng di Sangatta Utara. (Vian/Pro Kutim)

SANGATTA – Peresmian Pastori Gereja Toraja Jemaat Marendeng menjadi penanda perjalanan lima tahun kebersamaan. Wakil Bupati Kutai Timur (Wabup Kutim) Mahyunadi mengingatkan, bangunan fisik hanya satu bagian dari pembangunan. Kerukunan dan pembentukan manusia tetap menjadi pekerjaan yang lebih panjang. Sebuah bangunan permanen dua lantai akhirnya berdiri setelah melalui perjalanan pembangunan selama kurang lebih lima tahun. Di Desa Singa Gembara, Kecamatan Sangatta Utara, bangunan itu kini menjadi Pastori atau Rumah Jabatan Pendeta Gereja Toraja Jemaat Marendeng. Namun, bagi Wabup Kutin Mahyunadi, peresmian bangunan tersebut tidak hanya berbicara mengenai rampungnya sebuah konstruksi. Ada ihwal (perkara atau hal) yang lebih mendasar untuk terus dirawat. Yaitu kerukunan, toleransi, dan pembangunan manusia.

Di tengah berbagai konflik dan peperangan yang masih berlangsung di sejumlah belahan dunia, Mahyunadi mengingatkan bahwa suasana aman, damai, dan kondusif tidak semestinya dipandang sebagai keadaan yang hadir dengan sendirinya. Menurut dia, kehidupan yang rukun merupakan modal utama agar masyarakat dan pemerintah dapat melangkah bersama membangun daerah.

“Kerukunan dan toleransi ini harus terus kita jaga. Kalau masyarakatnya rukun, saling menghargai dan hidup berdampingan dengan baik, maka pembangunan akan lebih mudah kita jalankan,” ujar Mahyunadi saat menghadiri Ibadah Syukur Tahunan sekaligus peresmian Pastori Gereja Toraja Jemaat Marendeng, Sabtu, (5/9/2026).

Mahyunadi mencontohkan sejumlah konflik yang terjadi di dunia, mulai dari perang antara Rusia dan Ukraina, konflik yang melibatkan Israel dan Iran serta Amerika Serikat, hingga perang saudara yang berkepanjangan di Myanmar. Menurut dia, ketika perdamaian runtuh, masyarakat menjadi pihak yang paling merasakan akibatnya. Kehidupan warga terguncang, sementara roda ekonomi dan pembangunan turut terganggu.

“Kita jangan sampai menganggap kerukunan itu sesuatu yang biasa. Ketika sebuah bangsa dilanda konflik dan perang, yang paling menderita adalah rakyatnya. Karena itu, mari kita jaga Kutai Timur agar tetap aman, damai dan kondusif,” pesan Mahyunadi.

Peringatan itu menjadi penting bagi daerah yang terus bergerak membangun. Menurut Mahyunadi, pembangunan membutuhkan keadaan yang tenteram agar setiap unsur masyarakat dapat mengambil peran. Kerukunan bukan semata keadaan sosial yang nyaman, melainkan titian (jalan penghubung) yang memungkinkan kerja bersama berlangsung tanpa dibayangi pertentangan. Karena itu, ia berharap para pendeta dan tokoh agama terus mengambil peran dalam membina masyarakat, khususnya warga jemaat. Pembinaan tersebut, menurut dia, tidak hanya berkaitan dengan penguatan iman, tetapi juga pembentukan karakter dan akhlak yang mulia.

Mahyunadi menilai pembangunan daerah tidak cukup diukur dari bertambahnya jalan, gedung, dan berbagai infrastruktur. Pembangunan, menurut dia, juga harus melahirkan manusia yang memiliki moral, rasa tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama. Dalam konteks itulah gereja dipandang memiliki kontribusi penting dalam pembangunan sumber daya manusia di Kutim. Melalui pembinaan iman dan penguatan nilai-nilai moral, gereja ikut membentuk masyarakat yang berkarakter, disiplin, serta mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.

Arah tersebut sejalan dengan pandangan Mahyunadi bahwa pembangunan manusia tidak boleh tersisih oleh geliat pembangunan fisik. Bangunan dapat didirikan dalam hitungan waktu, sedangkan membentuk watak dan kepedulian sosial merupakan ikhtiar (usaha yang sungguh-sungguh) yang membutuhkan kesinambungan.
Pesan itu pula yang terasa sejalan dengan perjalanan pembangunan Pastori Gereja Toraja Jemaat Marendeng.

Ketua Panitia Pembangunan, Mike Paembonan, menjelaskan bangunan tersebut didirikan dengan ukuran 9 x 20 meter. Pembangunannya berlangsung secara bertahap selama kurang lebih lima tahun dengan total anggaran sekitar Rp2,3 miliar. Dana pembangunan berasal dari berbagai unsur. Pemkab Kutim memberikan dukungan, dunia usaha berpartisipasi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), termasuk PT Kaltim Prima Coal, sementara warga jemaat turut mengambil bagian melalui sumbangan dan partisipasi.

“Pembangunan Pastori ini kurang lebih berlangsung selama lima tahun. Total anggaran yang digunakan sekitar Rp2,3 miliar. Ini adalah hasil kebersamaan, ada dukungan pemerintah, perusahaan melalui CSR dan juga partisipasi dari warga jemaat,” jelas Mike.

Perjalanan lima tahun tersebut berujung pada berdirinya sebuah bangunan permanen dua lantai yang kini dapat digunakan untuk mendukung pelayanan dan pembinaan warga jemaat. Bagi sekitar 180 kepala keluarga Gereja Toraja Jemaat Marendeng, selesainya pembangunan Pastori menjadi momentum syukur. Bangunan itu diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai rumah jabatan pendeta, tetapi juga menopang pelayanan, pembinaan iman, dan kehidupan sosial warga jemaat.

Di balik dinding dan lantai bangunan yang kini telah berdiri, terdapat jejak kebersamaan yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Masing-masing mengambil peran untuk mewujudkan kebutuhan bersama.
Bagi Mahyunadi yang kali ini mewakili Bupati, semangat semacam itu juga perlu terus dipelihara dalam perjalanan pembangunan Kutim. Kerukunan dan toleransi menjadi alas pijakan, sedangkan pembangunan manusia menjadi tujuan yang tidak boleh luput dari perhatian. Sebab, sebagaimana pesan yang disampaikannya di hadapan warga jemaat, kemajuan daerah bukan hanya perkara apa yang berhasil dibangun dan tampak oleh mata. Lebih jauh dari itu, pembangunan juga ditentukan oleh manusia yang hidup di dalamnya, apakah mereka mampu saling menghargai, menjaga perdamaian, dan bergandengan tangan dalam keberagaman.

Dari sebuah Pastori yang akhirnya berdiri setelah perjalanan lima tahun, pesan itu kembali menemukan maknanya. Pesan bahwa kebersamaan dapat melahirkan bangunan, tetapi kerukunanlah yang menjaga kehidupan masyarakat tetap bertumbuh. (kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini