Momen Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman saat menutup gelaran Out The Box 2026 Gebyar Literasi Kutim.Foto: Irfan/Pro Kutim
SANGATTA – Pameran buku dan festival literasi bertajuk “Out of the Boox” Gebyar Literasi Kutai Timur (Kutim) 2026 yang berlangsung di Aula Ki Hajar Dewantara, YPPSB Munthe, resmi ditutup pada Minggu (4/10/2026). Penutupan acara yang dirangkai dengan penyerahan apresiasi tinggi ini disampaikan langsung oleh Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman. Sebelumnya kegiatan ini dibuka pada Jumat (25/9/2026) lalu.
Di hadapan para tamu undangan dan insan pendidikan, Bupati Ardiansyah menegaskan bahwa literasi bukanlah sekadar kegiatan membaca, melainkan sebuah kebutuhan mutlak dan kewajiban di dalam kehidupan baik dalam ranah pribadi, keluarga, masyarakat, hingga kehidupan berbangsa.
“Kalau kita hidup tanpa literasi, Saudara sekalian, apalah makna kehidupan itu sendiri?” ujar Ardiansyah dalam arahannya disaksikan Kepala Dispusip Kutim M Ayub, Direktur YPPSB Endah Wulandari, Ketua Panitia Deden Lukman, Ketua Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Kutim Nurul Mutia Karim.

Ia juga menyoroti keunggulan komparatif bahasa Indonesia yang kini telah diakui secara global sebagai salah satu bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan menduduki peringkat kesepuluh dunia dari segi jumlah kosakata. Menurutnya, kekayaan kosakata bahasa Indonesia yang menyerap unsur bahasa daerah seperti Melayu, Bugis, Banjar, Papua, hingga bahasa daerah di NTT jauh lebih masif dibandingkan bahasa lain di kawasan regional.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Ardiansyah Sulaiman turut menyampaikan pandangan kritisnya terkait perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) di tengah masyarakat, khususnya di kalangan pencipta karya dan penulis. Ia mengingatkan agar para kreator tidak serta-merta menyerahkan proses kreatif penulisan kepada AI.
Ia mencontohkan fenomena penciptaan lagu atau karya sastra yang mulai memanfaatkan teknologi AI. Menurutnya, karya yang dihasilkan melalui AI sering kali kehilangan keaslian karakter suara, jiwa, serta kedalaman rasa yang seharusnya bersumber dari diri manusia itu sendiri.

“Harus suara khas, suara asli. Kasihan nanti yang suara asli sudah capek-capek rekaman dirubah. Karena suara khas AI itu nggak pernah ada yang salah,” tegasnya.
Bupati menambahkan, meski media digital dan teknologi modern dapat berfungsi sebagai pendorong, ide-ide kreatif yang orisinal tetap harus lahir dari dalam diri manusia. Literasi berbasis digital, lanjutnya, hanyalah alat bantu penunjang, sementara substansi berpikir, menulis, dan berbicara harus berpijak pada kemampuan otentik diri sendiri.
“Melalui penyelenggaraan Gebyar Literasi 2026 ini, Pemkab Kutim berharap minat baca dan semangat literasi masyarakat khususnya generasi muda terus meningkat, menjadikan literasi sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban dan daya saing daerah ke depan,” tutupnya.(kopi13/kopi3)





























