Kepala Bidang KB DPPKB Kutim Mustika. Foto: Wahyu/DPPKB
SANGATTA – Minat pria di Kutai Timur (Kutim) untuk mengikuti program Keluarga Berencana (KB) melalui vasektomi mulai menunjukkan peningkatan. Namun, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim masih menghadapi tantangan berupa stigma dan anggapan keliru di tengah masyarakat.
Kepala Bidang KB DPPKB Kutim Mustika mengatakan, masih terdapat pandangan negatif terhadap vasektomi, termasuk anggapan bahwa metode kontrasepsi tersebut dapat disalahgunakan untuk perilaku yang tidak bertanggung jawab dalam kehidupan rumah tangga.
Menurutnya, pemahaman tersebut perlu diluruskan melalui edukasi yang berkelanjutan. Vasektomi, kata dia, merupakan salah satu metode kontrasepsi bagi pria yang ditujukan untuk mendukung perencanaan keluarga, sehingga pelaksanaannya harus didasarkan pada kesepakatan dan kesiapan pasangan suami istri.
“Namanya kenapa dibilang KB mantap? Semuanya harus mantap. Dari suami-istri harus punya restu juga. Jadi semuanya itu nanti positif thinking terjadi kalau sudah mantap dua-duanya,” ujar Mustika saat ditemui insan pers di Kantor DPPKB Kutim, Selasa (1/9/2026).
Ia menegaskan, program vasektomi tidak semestinya dipandang dari sisi negatif. Sebaliknya, metode tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mewujudkan keluarga yang sehat, sejahtera, serta memiliki perencanaan keluarga yang matang.
Karena itu, DPPKB terus mendorong pemahaman yang benar kepada masyarakat agar vasektomi tidak disalahartikan maupun digunakan di luar tujuan program KB.
“Bukan hanya mengedukasi semua itu ya, supaya jangan disalahgunakan,” imbuhnya.
Mustika menyebut, hingga saat ini belum terdapat laporan mengenai penyalahgunaan vasektomi di Kutim. Ia menilai hal tersebut menunjukkan pentingnya kesiapan dan kesepakatan pasangan sebelum memutuskan mengikuti program KB mantap tersebut.
“Kalau ada pun ya tanggung dosa masing-masing sama yang di atas. Tapi belum ada, alhamdulillah. Karena mantapnya itu,” jelasnya.
Di sisi lain, meningkatnya minat terhadap vasektomi juga dipengaruhi oleh kondisi keluarga, terutama faktor ekonomi dan kesehatan istri. Mustika menyebut Kecamatan Muara Bengkal serta kawasan perusahaan perkebunan kelapa sawit menjadi wilayah yang cukup banyak memiliki akseptor vasektomi.
“Faktor ekonomi dan kondisi kesehatan istri menjadi alasan utama pria memilih vasektomi,” katanya.
Menurut Mustika, keputusan mengikuti vasektomi juga dapat menjadi pilihan ketika istri sudah tidak memungkinkan menggunakan metode kontrasepsi tertentu karena kondisi kesehatan. Dalam situasi tersebut, suami dapat mengambil peran dengan memilih metode kontrasepsi pria.
Untuk memperluas pemahaman tersebut, DPPKB Kutim terus melakukan sosialisasi melalui kelompok-kelompok KB Pria yang ada di masyarakat. Kelompok tersebut dinilai memiliki peran penting sebagai penggerak sekaligus sumber informasi bagi pria dan pasangan usia subur yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai KB pria.
Upaya tersebut diharapkan dapat mengikis stigma yang selama ini berkembang sekaligus mendorong keterlibatan pria dalam program KB. Dengan pemahaman yang lebih baik, perencanaan keluarga tidak hanya menjadi tanggung jawab perempuan, tetapi juga menjadi keputusan bersama antara suami dan istri.(*/kopi8/kopi13/kopi3)






























