Suasana kegiatan Peningkatan Indeks Pembangunan Pemuda dan Penguatan Ideologi Pancasila bagi Pemuda di Kutai Timur. Foto: Alvian/Pro Kutim
SANGATTA – Bonus demografi yang selama ini dipandang sebagai peluang besar bagi Indonesia menuju 2045 tidak akan bermakna apabila kualitas generasi mudanya gagal dipersiapkan. Di tengah derasnya perkembangan teknologi digital, persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif, serta ancaman penyalahgunaan narkoba dan judi daring, rendahnya keterlibatan pemuda dalam organisasi dinilai menjadi sinyal yang patut mendapat perhatian serius.
Atas dasar itulah Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) bekerja sama dengan Dispora Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menggelar kegiatan Peningkatan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) dan Penguatan Ideologi Pancasila di Ruang Meranti, Sekretariat Kabupaten Kutim, Rabu (16/7/2026). Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat pemahaman generasi muda mengenai pembangunan kepemudaan sekaligus menumbuhkan kembali semangat kepemimpinan melalui organisasi.
Kepala Bidang Pengembangan Pemuda Dispora Kaltim, Hasbar Mara, mengatakan pemahaman mengenai Indeks Pembangunan Pemuda masih perlu diperluas. Menurut dia, banyak kalangan yang memandang pembangunan pemuda hanya bertumpu pada pendidikan dan pekerjaan, padahal ruang lingkup IPP jauh lebih luas.

“Aspek-aspek yang dinilai dalam Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) di Indonesia dikelompokkan ke dalam 5 domain utama. Kelima domain ini mencakup indikator-indikator spesifik untuk mengukur kualitas, kesejahteraan, dan partisipasi pemuda,” jelas Hasbar.
Ia menerangkan, IPP menjadi instrumen untuk memotret kualitas pembangunan generasi muda melalui lima domain utama. Meliputi pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, kesempatan kerja, partisipasi dan kepemimpinan, serta gender dan diskriminasi. Seluruh indikator tersebut menjadi ukuran penting dalam melihat sejauh mana pembangunan kepemudaan berjalan di suatu daerah.
Berdasarkan Indeks Pembangunan Pemuda 2024 yang dirilis Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kaltim menempati peringkat kelima nasional dengan nilai 59,17. Angka tersebut berada di atas rata-rata nasional yang tercatat sebesar 56,3. Meski demikian, Hasbar mengingatkan bahwa capaian tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi ideal. Masih terdapat pekerjaan rumah, terutama pada domain partisipasi dan kepemimpinan yang nilainya belum mampu melampaui rata-rata nasional.

“Selama ini belum banyak sosialisasi mengenai Indeks Pembangunan Pemuda. Karena itu kami ingin generasi muda memahami bahwa mereka memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pembangunan pemuda di daerah,” ujarnya.
Hasbar mengungkapkan, hasil sosialisasi yang dilakukan di berbagai daerah menunjukkan fakta bahwa keterlibatan pemuda dalam organisasi masih tergolong rendah. Dari sekitar 200 peserta yang mengikuti satu kegiatan, jumlah mereka yang aktif berorganisasi bahkan tidak mencapai 10 persen. Menurut dia, kondisi tersebut merupakan peringatan yang tidak boleh diabaikan. Organisasi bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan ruang pembelajaran yang menempa kemampuan memimpin, bekerja sama, berkomunikasi, hingga mengasah kecakapan dalam menyelesaikan persoalan.
“Ini menjadi alarm bagi kita semua. Pemuda harus lebih banyak terlibat dalam organisasi karena di sanalah mereka belajar memimpin, bekerja sama, berkomunikasi, dan mengembangkan kemampuan diri,” tegasnya.
Hasbar menilai derasnya arus media sosial, gim daring, serta maraknya praktik judi online perlahan menggeser perhatian sebagian generasi muda dari aktivitas organisasi. Padahal, menurut dia, organisasi merupakan “sekolah kepemimpinan” yang melahirkan calon-calon pemimpin masa depan. Selain mendorong peningkatan partisipasi, kegiatan tersebut juga memberikan penguatan terhadap ideologi Pancasila. Hasbar menegaskan, keberagaman suku, agama, dan budaya yang hidup di Kaltim harus menjadi modal sosial untuk memperkukuh persatuan, bukan justru memunculkan sekat-sekat di tengah masyarakat.

Sementara itu, Kadispora Kutim, Basuki Isnawan, mengatakan dipilihnya Kutim sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan merupakan bentuk apresiasi terhadap konsistensi daerah dalam membangun sektor kepemudaan. Selama dua tahun berturut-turut, Kutim berhasil meraih Panji Keberhasilan Pembangunan Bidang Kepemudaan tingkat Provinsi Kaltim.
“Kutim dipercaya menjadi tuan rumah karena selama dua tahun berturut-turut berhasil meraih Panji Keberhasilan Pembangunan Bidang Kepemudaan tingkat Provinsi Kaltim. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pembangunan pemuda,” kata Basuki.
Menurut Basuki, capaian tersebut tidak boleh berhenti sebagai penghargaan administratif semata. Pengakuan itu justru harus menjadi pemacu untuk memperkuat pembinaan generasi muda agar mampu menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Ia mengingatkan bahwa ancaman narkoba dan judi online merupakan persoalan nyata yang dapat merusak masa depan generasi muda apabila tidak dicegah sejak dini.

“Saya mengajak seluruh pemuda Kutim menjauhi narkoba dan judi online. Dua hal ini bisa menghancurkan masa depan. Mari isi waktu dengan kegiatan yang positif, aktif berorganisasi, terus belajar, dan mengembangkan kemampuan diri agar mampu menjadi generasi yang membanggakan daerah,” pesannya.
Ajakan tersebut memperoleh sambutan positif dari peserta kegiatan. Salah satunya datang dari Andi Dara, Duta Pemuda Kutim 2025 yang menjadi salah satu perwakilan resmi daerah. Ia menilai sosialisasi tersebut memperluas pemahamannya mengenai pembangunan kepemudaan yang tidak hanya bertumpu pada aspek akademik maupun pekerjaan.
“Kegiatan ini membuka wawasan kami bahwa pembangunan pemuda bukan hanya soal pendidikan atau pekerjaan, tetapi juga bagaimana kami berani mengambil peran, aktif di organisasi, serta ikut berkontribusi bagi daerah. Di era digital, pemuda harus bijak menggunakan teknologi dan tidak mudah terpengaruh narkoba maupun judi online. Kami ingin membuktikan bahwa pemuda Kutai Timur mampu menjadi generasi yang berprestasi, berkarakter, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045,” ujar Andi Dara.
Melalui kegiatan tersebut, pemerintah berharap semakin banyak pemuda di Kutim mengambil peran dalam organisasi, menumbuhkan kepemimpinan, menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, serta memanfaatkan kemajuan teknologi secara arif (bijaksana) dan maslahat (memberikan kemanfaatan). Upaya tersebut diharapkan mampu memperkuat seluruh domain Indeks Pembangunan Pemuda sekaligus memperbesar kontribusi Kutim terhadap pembangunan kepemudaan di Kaltim dan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. (kopi4/kopi3)






























