Manajemen Telkom dan Telkonsel menemui Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman. Foto: Dewi/Pro Kutim
SANGATTA — Telkom Group memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui audiensi bersama Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman dan Kepala Dinas Kominfo Staper Kutim Ronny Bonar Hamonangan Siburian yang membahas evaluasi implementasi layanan, peningkatan konektivitas, penguatan layanan digital hingga penanganan sejumlah titik blank spot jaringan telekomunikasi di wilayah tersebut.
Pertemuan yang berlangsung Kamis (13/8/2026) itu menjadi bagian dari upaya Telkom Group memastikan layanan yang diberikan kepada Pemerintah Kabupaten Kutim tetap berjalan sesuai kebutuhan, terdokumentasi secara baik, serta mampu menjawab tantangan pelayanan dan infrastruktur telekomunikasi di daerah.
Dalam pertemuan tersebut, Telkom Regional 4 Kalimantan hadir melalui Hari Purwanto, bersama GM Witel Kaltimtara Khaidar Subhan Rahman beserta jajaran, Sementara dari Telkomsel hadir Hakki dan Zulkifli Farma serta jajaran.

Pembahasan mencakup tinjauan implementasi POS, layanan diskon Telkom Group, peningkatan konektivitas, layanan digital dan platform digital, akuntabilitas layanan, peningkatan reliabilitas pelayanan, program unggulan CSR, hingga kondisi jaringan 4G di Kutim.
Khaidar Subhan Rahman menjadi salah satu perwakilan Telkom Group yang mengikuti pembahasan strategis tersebut. Kehadiran Telkom dalam audiensi menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus menyelaraskan layanan dengan kebutuhan Pemerintah Kabupaten Kutim.
Khaidar menjelaskan Telkom Group sendiri memiliki cakupan bisnis yang meliputi konektivitas, layanan digital, dan layanan platform digital. Dalam berbagai implementasinya, Telkom juga berkontribusi dalam sejumlah ekosistem digital nasional, antara lain Vina PROP, LPTP, Catalog Vina, PDNS, PeduliLindungi, serta 1 Data Indonesia.

Untuk Kutim, sebagian besar layanan Telkom berkaitan dengan kebutuhan konektivitas, baik fixed broadband maupun wireless. Karena itu, keandalan jaringan menjadi salah satu perhatian utama dalam pembahasan.
“Salah satu mekanisme yang menjadi perhatian adalah pelaksanaan post implementation review atau tinjauan pascaimplementasi. Langkah tersebut dilakukan untuk mengevaluasi delivery layanan sekaligus memastikan aspek administrasi berjalan secara akuntabel, terdokumentasi, dan sesuai dengan ruang lingkup kesepakatan,” sebutnya.
Berikutnya, pendekatan tersebut dinilai penting agar layanan yang telah diberikan tidak berhenti pada tahap implementasi, tetapi terus dievaluasi dan disesuaikan dengan kebutuhan pengguna layanan.
Selain evaluasi, Telkom Group juga membahas peningkatan reliabilitas pelayanan. Salah satu langkah yang disiapkan adalah pengajuan peningkatan bandwidth apabila tingkat utilisasi telah mencapai lebih dari 80 persen.
Koordinasi dengan tim infrastruktur juga direncanakan untuk dilakukan mulai kuartal III 2026. Termasuk pembahasan jalur baru sepanjang sekitar 1.255 meter di kawasan Jalan Pendidikan dan Jalan Soekarno-Hatta.
Pembahasan juga menyentuh program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Layanan yang telah berjalan diharapkan tetap selaras dengan program unggulan CSR sehingga keberadaan Telkom Group tidak hanya memberikan dukungan dari sisi bisnis, tetapi juga memberi nilai tambah bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

Sementara itu, Hakki dan Zulkifli menjelaskan di sisi lain, persoalan blank spot menjadi salah satu isu yang cukup menonjol dalam pertemuan tersebut. Telkomsel menyatakan kesiapan mendukung upaya pengentasan wilayah yang masih mengalami keterbatasan jaringan.
Hakki, Manager Network Operation mengatakan salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Desa Benua Harapan.
“Tower telekomunikasi di desa tersebut merupakan bantuan yang dibangun pada 2022. Kondisi jaringan di lokasi itu akan terus dikaji untuk memastikan apakah diperlukan peningkatan kapasitas atau penguatan layanan,” urainya.
Senada Kepala Diskominfo Staper Kutim Ronny Bonar mengatakan, selain Benua Harapan, sejumlah lokasi yang teridentifikasi sebagai titik blank spot antara lain di Himba Lestari, ulau Miang hingga Long Pejeng
Pemkab Kutim melalui perangkat terkait selanjutnya akan melakukan pemetaan terhadap titik-titik blank spot. Pemetaan tersebut menjadi dasar untuk menyelaraskan kebutuhan prasarana dengan dukungan jaringan Telkom maupun Telkomsel.
Zulkifli Manager Network Operation memaparkan dari sisi cakupan, jaringan Telkomsel di Kutim disebut telah menjangkau jaringan 4G di 18 kecamatan dengan total hampir 300 tower.
“Meski demikian, perluasan dan pemeliharaan jaringan masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu kendala utama adalah putusnya jaringan fiber optik. Selain itu, sekitar 15 persen dari total populasi site disebut belum mendapatkan dukungan jaringan listrik PLN,” jelasnya.
Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah dalam menjaga reliabilitas jaringan telekomunikasi, khususnya di wilayah yang secara geografis memiliki tantangan infrastruktur.
Dari bahasan tersebut, Pemkab Kutim menegaskan perkembangan teknologi komunikasi satelit, termasuk regulasi Starlink di Indonesia. Selanjutnya pengoperasian layanan tersebut memiliki ketentuan tersendiri dan tidak dapat diperlakukan sama dengan penggunaan layanan ketika kendaraan sedang bergerak.
Pada akhirnya, Telkom Group menegaskan komitmen untuk terus melakukan perbaikan layanan. Telkomsel juga siap melakukan asesmen terhadap lokasi-lokasi yang masih mengalami blank spot.
Dari pantauan Pro Kutim, Telkom Group akan memperkuat pengamanan jalur fiber optik guna menjaga keberlangsungan konektivitas. Pemkab Kutim melalui perangkat yang menangani informasi dan komunikasi akan memetakan titik blank spot untuk kemudian diselaraskan dengan ketersediaan maupun rencana pembangunan prasarana Telkom dan Telkomsel.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempersempit kesenjangan konektivitas di Kutai Timur. Di tengah kebutuhan layanan pemerintahan yang semakin bergantung pada sistem digital, jaringan yang andal menjadi fondasi penting agar pelayanan publik tidak tersendat.(kopi15/kopi13)
































