Beranda Kutai Timur Jelang Lebaran di Kutim, Harga Cabai Merah Makin “Pedas”, Sembako Lain Bertahan

Jelang Lebaran di Kutim, Harga Cabai Merah Makin “Pedas”, Sembako Lain Bertahan

136 views
0

Teks foto Utama: Suasana di kios Daging di Pasar Induk Sangatta Selasa (17/3/2026)

SANGATTA – Denyut nadi Pasar Induk Sangatta (PIS) menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah berdegup dalam irama yang relatif terjaga. Di antara riuh tawar-menawar dan lalu-lalang pembeli, sebagian besar harga kebutuhan pokok tampak bertahan pada aras kewajaran. Namun, di sela kestabilan itu, cabai merah justru melambung, menorehkan lonjakan yang paling mencolok dibanding komoditas lain.

Pantauan pada Selasa (17/3/2026) memperlihatkan bahwa beras, gula, minyak goreng, hingga daging masih berada dalam kisaran harga lazim. Ketersediaan pasokan pun terbilang mencukupi, seolah menjadi penyangga ketenangan di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang Lebaran.

Kontras dengan itu, cabai merah menjelma komoditas yang paling bergejolak. Keterbatasan pasokan, berpadu dengan lonjakan permintaan, menjadi sebab utama meroketnya harga di lapak-lapak pedagang.

Ibu Eni, pedagang sayur yang telah menggeluti usaha sejak 2013, merasakan betul perubahan itu. Ia menyebut kenaikan terjadi dalam hitungan hari, seiring tersendatnya distribusi dari daerah pemasok.

Teks foto 2: Suasana Pasar Induk Sangatta jelang lebaran 1447 H.

“Sekarang cabai mahal sekali. Dulu masih Rp 85 ribu, sekarang sudah Rp 125 ribu per kilo. Soalnya barang dari Samarinda tidak ada kiriman,” ujar Ibu Eni.

Di sudut lain pasar, harga bawang merah masih berada dalam rentang Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram, bergantung pada mutu. Sementara itu, komoditas telur turut mengalami kenaikan tipis. Aji, pedagang telur, mencatat pergerakan harga yang tidak terlampau tajam, namun tetap terasa bagi pembeli.

“Naiknya tidak banyak, tapi memang sudah terasa. Biasanya Rp 60 ribu, sekarang Rp 65 ribu. Kalau telur omega jadi Rp 70 ribu per rak,” kata Aji.

Teka foto 3: Aji, penjual telur di Pasar Induk Sangatta

Hal serupa juga terjadi pada daging ayam. Dalam sepekan terakhir, harga ayam ras merangkak naik sekitar Rp 5 ribu, kini berada di kisaran Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram. Ayam merah diperdagangkan pada rentang Rp 75 ribu hingga Rp 80 ribu per kilogram.

“Dalam seminggu ini naik sekitar Rp 5 ribu. Sekarang ayam ras di Rp 45 sampai Rp 50 ribu per kilo,” ujar Andi, pedagang ayam.

Adapun daging sapi relatif tidak beranjak dari kisaran Rp 170 ribu hingga Rp 180 ribu per kilogram, menjaga posisi sebagai komoditas dengan harga stabil di tengah fluktuasi terbatas.

Bagi konsumen, lonjakan harga cabai menjadi yang paling terasa. Ibu Wahidah, warga Jalan Dayung, mengakui kenaikan tersebut lebih mencolok dibanding bahan pokok lain.

“Kenaikan cabai memang tinggi sekali, tapi yang lain masih bisa diterima. Meskipun harga cabai naik ‘pedas’, tapi karena butuh ya tetap beli,” ujarnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kutai Timur (Kadisperindag Kutim), Nora Ramadhani, menilai dinamika harga menjelang hari besar keagamaan merupakan gejala yang lazim. Menurutnya, peningkatan permintaan kerap memicu kenaikan pada sejumlah komoditas, meski masih dalam batas kendali.

“Beberapa komoditas memang mengalami kenaikan, tetapi masih dalam batas yang dapat dikendalikan. Stok secara umum masih aman,” kata Nora.

Ia menambahkan, pemantauan dilakukan secara berkelanjutan, mencakup ketersediaan barang hingga kelancaran distribusi. Bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pemerintah daerah juga telah melakukan inspeksi mendadak ke agen bahan pokok, SPBU, dan agen LPG.

“Sesuai arahan Bupati, kami turun langsung ke lapangan untuk memastikan pasokan tetap lancar menjelang Lebaran,” tutupnya.

Di samping itu, pemerintah daerah turut menggulirkan langkah intervensi berupa operasi pasar dan pasar murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Upaya ini diharapkan menjadi penopang daya beli, sekaligus meredam tekanan harga di tengah meningkatnya kebutuhan.

“Kami juga sudah melakukan sidak, operasi pasar, dan pasar murah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), supaya warga tetap bisa memenuhi kebutuhan pokok menjelang Lebaran,” ujarnya.

Di tengah geliat pasar yang kian padat, kestabilan sebagian besar harga menjadi penyeimbang. Namun, cabai merah yang melesat tajam mengingatkan bahwa rantai pasok yang tersendat, betapapun singkat, dapat segera memantik gejolak di meja dapur masyarakat. (kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini