Beranda Kutai Timur Pendidikan 13 Tahun Kutim Dimulai dari PAUD

Pendidikan 13 Tahun Kutim Dimulai dari PAUD

39 views
0

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman di tengah-tengah peringatan HAN 2026 se-Kecamatan Sangatta Utara. Foto: Alvian/Pro Kutim

SANGATTA – Masa depan sebuah generasi acap kali ditentukan oleh hal-hal yang tampak sederhana, bagaimana seorang anak pertama kali belajar mengenal dunia, berinteraksi dengan sesamanya, memahami aturan, dan menemukan keberanian untuk bertanya. Dari ruang-ruang pendidikan anak usia dini itulah fondasi tersebut perlahan dibentuk. Di tengah laju teknologi yang kian deras, arus informasi yang melintas tanpa sekat melalui media sosial, serta pengaruh budaya global yang tidak seluruhnya selaras dengan nilai kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan anak usia dini menjadi perkara yang kian penting. Anak-anak tidak hanya membutuhkan kemampuan mengenal huruf dan angka, tetapi juga membutuhkan ruang untuk menumbuhkan watak, kecerdasan, rasa percaya diri, kemampuan bersosialisasi, dan nilai-nilai moral.

Pandangan itu kembali ditegaskan Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman dalam Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 tingkat Kecamatan Sangatta Utara. Kegiatan yang diselenggarakan Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTK) tersebut berlangsung di halaman Kantor Camat Sangatta Utara, Kamis, 23 Juli 2026.

Peringatan HAN tahun ini mengusung tema “Sayangi Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”. Ketua TP PKK sekaligus Bunda PAUD Kabupaten Kutim Hj Siti Robiah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim Mulyono, Camat Sangatta Utara Hasdiah, para guru PAUD dan TK, komite sekolah, serta ribuan orang tua dan peserta didik turut menghadiri kegiatan tersebut.

Bagi Ardiansyah, pendidikan anak usia dini tidak semestinya ditempatkan sebagai jenjang pelengkap dalam perjalanan pendidikan seorang anak. Sebaliknya, PAUD merupakan permulaan dari proses panjang pembentukan sumber daya manusia. Pemkab Kutim, kata dia, menempatkan pendidikan usia dini sebagai bagian dari kebijakan strategis pembangunan sumber daya manusia melalui program pendidikan dasar 13 tahun yang dimulai sejak PAUD.

“Di Kutim kita menerapkan pendidikan dasar 13 tahun yang dimulai dari PAUD. Pendidikan anak usia dini bukan lagi dipandang sebagai pelengkap, tetapi menjadi fondasi utama untuk membentuk karakter, kecerdasan, dan kesiapan anak memasuki jenjang pendidikan berikutnya. Kalau fondasinya kuat, maka anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang siap menghadapi perubahan zaman,” tegas Ardiansyah.

Kebijakan tersebut, menurut Ardiansyah, merupakan wujud keseriusan pemerintah daerah dalam membuka kesempatan belajar bagi setiap anak sejak usia emas. Akses pendidikan, dalam pandangannya, tidak boleh terhenti oleh batas administratif ataupun keterbatasan keberadaan lembaga pendidikan di tingkat desa.

Karena itu, Pemkab Kutim mewajibkan setiap desa memiliki sedikitnya satu lembaga PAUD.

“Kami mewajibkan setiap desa minimal memiliki satu PAUD. Alhamdulillah, berdasarkan laporan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Mulyono, seluruh desa di Kutim sudah memiliki PAUD. Ini merupakan langkah nyata agar tidak ada lagi anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan sejak usia dini,” ujarnya.

Ardiansyah melihat PAUD sebagai ruang awal tempat seorang anak belajar memahami kehidupan sosial. Di sana, anak mulai mengenal disiplin, belajar berinteraksi, menghargai orang lain, membangun keberanian, serta mengenal nilai moral dan kebangsaan. Dengan demikian, pendidikan pada usia dini tidak hanya berbicara mengenai kemampuan akademis. Ada proses panjang yang berlangsung secara perlahan, melalui kebiasaan dan keteladanan, untuk membentuk pribadi anak sebelum mereka memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Pemerintah daerah juga memandang pendidikan usia dini sebagai bagian dari persiapan menghadapi bonus demografi. Indonesia saat ini berada pada momentum ketika jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia nonproduktif. Namun, bonus demografi tidak serta-merta menjadi berkah. Ia membutuhkan persiapan panjang, dan salah satu pangkalnya adalah pendidikan.

“Bonus demografi adalah peluang emas yang tidak datang dua kali. Tahun 2045 nanti, anak-anak yang hari ini berada di bangku PAUD dan TK akan menjadi generasi produktif yang memimpin bangsa ini. Kalau sejak sekarang mereka kita didik dengan baik, diberi gizi yang cukup, dibentuk karakternya, dan dibiasakan mencintai belajar, maka mereka akan menjadi kekuatan besar bagi Indonesia. Tetapi kalau kita gagal mempersiapkan mereka, bonus demografi justru bisa berubah menjadi beban,” katanya.

Pesan itu memperlihatkan bahwa anak-anak yang hari ini mengikuti kegiatan di halaman Kantor Camat Sangatta Utara bukan hanya peserta dalam sebuah peringatan tahunan. Mereka merupakan bagian dari generasi yang kelak akan mengisi ruang-ruang produktif pada masa depan. Karena itu, Ardiansyah juga menitipkan pesan kepada para guru PAUD dan TK agar menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan penuh kasih sayang. Pendidikan anak usia dini, menurutnya, membutuhkan pendekatan yang mampu membuat anak merasa aman sekaligus gembira dalam proses belajar. Peran tersebut tidak berhenti di lingkungan sekolah. Rumah menjadi ruang pendidikan pertama yang memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak.

Ketua TP PKK sekaligus Bunda PAUD Kabupaten Kutim Hj Siti Robiah mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan anak tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran di sekolah. Pola asuh orang tua di rumah juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

“Saya mengajak seluruh orang tua dan guru untuk tidak membentak anak dalam proses mendidik mereka. Anak-anak belajar melalui kasih sayang, kesabaran, perhatian, dan keteladanan. Kata-kata yang baik akan membentuk kepercayaan diri mereka, sedangkan bentakan bisa meninggalkan luka yang memengaruhi perkembangan mental dan emosional anak,” tegasnya.

Siti Robiah mengajak para orang tua mengawal tumbuh kembang anak dengan penuh cinta. Hubungan antara keluarga dan sekolah, menurut dia, perlu dibangun secara erat agar pendidikan karakter tidak terputus antara lingkungan rumah dan ruang belajar. Pendidikan yang berkesinambungan, dalam konteks ini, tidak hanya lahir dari kurikulum atau kegiatan di dalam kelas. Ia tumbuh dari keseharian anak, dari tutur kata orang dewasa, dari perilaku yang mereka lihat, serta dari keteladanan yang mereka rasakan.

Pandangan senada disampaikan Diyah Hayatingsih, salah seorang orang tua murid yang juga Penilik PAUD Kecamatan Sangatta Utara. Ia menyebut pendidikan anak usia dini sebagai investasi jangka panjang yang turut menentukan kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang.

“Usia dini adalah masa emas perkembangan anak. Pada fase inilah karakter, kebiasaan baik, kemampuan berpikir, dan keterampilan sosial mulai dibentuk. Karena itu, selain memperluas akses PAUD, kita juga harus menyiapkan tenaga pendidik yang berkualitas agar mampu menghadirkan pembelajaran yang kreatif, menyenangkan, dan sesuai dengan tahapan perkembangan anak,” ujarnya.

Di Sangatta Utara, perhatian terhadap pendidikan anak usia dini tergambar dari jumlah peserta yang mengikuti peringatan HAN 2026. Camat Sangatta Utara Hasdiah dalam laporannya menyampaikan, kegiatan tersebut diikuti 47 Taman Kanak-kanak (TK) dan 27 Kelompok Bermain (KB). Peserta terdiri atas 830 anak TK A, 2.330 anak TK B, dan 389 anak Kelompok Bermain. Mereka didampingi 160 guru. Total peserta mencapai 3.709 orang, belum termasuk orang tua yang turut hadir menemani anak-anak.

Rangkaian kegiatan dirancang tidak hanya sebagai perayaan. Gerakan minum susu bersama menjadi bagian dari kampanye pemenuhan gizi anak. Ada pula lomba olahan makanan berbahan dasar ikan yang diikuti komite sekolah sebagai edukasi mengenai pentingnya konsumsi pangan bergizi. Sementara itu, kegiatan finger painting (melukis dengan jari) memberi ruang bagi anak untuk mengembangkan kreativitas sekaligus kemampuan motorik halus.

Di antara riuh anak-anak, pendampingan orang tua, serta keterlibatan guru, peringatan HAN 2026 di Sangatta Utara membawa pesan yang lebih panjang daripada sebuah seremoni. Pendidikan 13 tahun yang dimulai dari PAUD menempatkan masa kanak-kanak sebagai titik mula pembangunan manusia. Sebab, generasi yang kelak diharapkan menjadi kekuatan Indonesia pada 2045 tidak lahir dalam semalam. Mereka tumbuh melalui pendidikan, gizi, kasih sayang, keteladanan, dan lingkungan yang memberi ruang bagi mereka untuk belajar.

Di Kutim, ikhtiar itu dimulai dengan memastikan akses PAUD hadir di setiap desa. Dari sana, pendidikan diharapkan tidak berhenti pada kemampuan membaca dan berhitung, tetapi menumbuhkan karakter, kecerdasan, serta kesiapan menghadapi perubahan zaman. Hari Anak Nasional pun menemukan maknanya, bahwa melindungi masa depan anak berarti mempersiapkan hari ini dengan pendidikan yang layak, pengasuhan yang penuh kasih, dan lingkungan yang memungkinkan setiap anak bertumbuh sesuai dengan tahap perkembangannya. (kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini