Teks: layanan kesehatan IBI Kutim di di posko-posko mudik.
SANGATTA – Arus perjalanan yang panjang kerap menyisakan keluhan sederhana, tubuh yang letih, tekanan darah yang tak terpantau, hingga mual yang datang tiba-tiba. Di sejumlah titik mudik di Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim), kondisi itu kini menemukan ruang penanganan yang lebih dekat dan mudah dijangkau melalui kehadiran bidan dari Ikatan Bidan Indonesia (IBI).
Kegiatan yang berlangsung pada 16 hingga 25 Maret 2026 ini dilaksanakan di 18 kecamatan. Layanan ditempatkan di posko-posko mudik dan terminal, bekerja sama dengan tim pengamanan. Di Sangatta Utara, posko berada di Simpang Bengalon, Lampu Merah Telkom, dan Posko Pendidikan. Sementara di Sangatta Selatan, pelayanan tersedia di Terminal Bus Kilometer 3. Di Teluk Pandan, layanan terpusat di posko mudik, dan untuk wilayah Wahau dilaksanakan dengan kolaborasi bersama Kongbeng.
Pelaksana kegiatan adalah pengurus ranting bidan di masing-masing kecamatan. Pengurus cabang melakukan pemantauan melalui kunjungan ke beberapa titik serta koordinasi melalui grup ketua ranting se-Kutim. Seluruh kegiatan juga dilaporkan ke IBI Provinsi dan IBI Pusat.
Manfaat kegiatan ini dirasakan langsung oleh masyarakat, baik pemudik maupun warga sekitar. Ibu Jubaidah, penumpang travel dari Berau dengan tujuan Balikpapan, singgah di Posko Teluk Pandan saat mengalami mual dan muntah dalam perjalanan.

“Saya mual dan muntah, mampir di posko Teluk Pandan untuk diperiksa,” ujarnya.
Di posko tersebut, ia mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Sopir kendaraan yang mengantarnya juga turut memeriksakan tekanan darah.
Di titik lain, Ibu Damaris, 45 tahun, bersama beberapa ibu lainnya datang ke posko di poros Bengalon. Mereka mengetahui adanya layanan pemeriksaan kesehatan gratis saat melintas di lokasi.
“Kami datang ke posko untuk periksa kesehatan,” kata Damaris.
Kehadiran layanan ini juga menarik perhatian warga setempat yang sebelumnya tidak merencanakan pemeriksaan kesehatan. Posko mudik menjadi tempat singgah yang tidak hanya melayani pelintas, tetapi juga masyarakat di sekitar lokasi.
Sejumlah warga mengaku merasa diperhatikan dengan adanya kegiatan tersebut. Mereka menyampaikan apresiasi atas pemeriksaan dan edukasi kesehatan yang diberikan.

“Kami senang karena merasa diperhatikan dan peduli selama di perjalanan. Terima kasih atas pemeriksaan dan edukasi yang kami dapatkan,” ungkap salah seorang warga.
Bagi masyarakat, kegiatan seperti ini masih jarang ditemui. Selama ini, layanan di jalur mudik umumnya terbatas pada penanganan kecelakaan lalu lintas. Sementara pemeriksaan kesehatan ringan, seperti pengecekan tekanan darah serta pemantauan kondisi ibu dan anak dalam perjalanan, belum banyak tersedia.
Melalui kegiatan ini, IBI di Kutim berupaya menghadirkan layanan yang dibutuhkan masyarakat secara langsung di lapangan. Harapannya, peran organisasi dapat terus mendukung pelayanan kesehatan di wilayah masing-masing, terutama dalam menjangkau masyarakat yang sedang berada dalam perjalanan. (kopi3)































